Oleh: Raden Ridwan Hasan Saputra


Beberapa hari ini saya mulai memikirkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikomandoi oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Saya mulai berpikir tentang MBG, karena saya melihat ada beberapa hal yang kalau tidak diwaspadai, program MBG ini akan menjadi masalah besar bagi bangsa dan negara di kemudian hari. Banyak orang termasuk saya, yang sudah mulai melihat hal-hal yang kurang pas dengan program MBG, terutama pada pelaksanaannya di lapangan. Di tulisan ini, saya tidak akan membahas hal-hal yang kurang pas tersebut, sebab saya yakin di masa depan akan banyak orang yang berteriak keras tentang  masalah-masalah yang terjadi di MBG dengan data akurat.

Di tulisan ini saya ingin membahas hal yang tidak kalah penting, yaitu masalah pembangunan jiwa. Mari kita renungkan pesan dari lirik lagu Indonesia Raya yaitu “…Bangunlah jiwanya, Bangunlah badannya, Untuk Indonesia Raya”. Jika ada Institusi Badan Gizi Nasional sebagai wujud membangun badan atau fisik atau raga untuk Indonesia Raya, seharusnya ada institusi yang membangun jiwanya juga. Membangun jiwa ini penting dilakukan karena di Indonesia saat ini banyak  pemimpin dan rakyat Indonesia yang jiwanya kurang gizi atau jiwanya kecil atau jiwanya sakit. Bukti bahwa banyak pemimpin dan rakyat Indonesia yang berjiwa kecil dan sakit adalah masih banyaknya praktik korupsi, kolusi, nepotisme yang menyebabkan kerusakan alam, ketidakadilan, kejahatan dan banyak hal negatif yang terjadi saat ini, yang dampaknya tidak baik  bagi masa depan bangsa dan negara.

Menurut keyakinan saya, mendirikan institusi yang membangun jiwa merupakan hal yang sudah sangat mendesak. Sebab jika terlambat, maka kondisi bangsa Indonesia akan menuju pada situasi yang semakin tidak baik-baik saja. Jika para pemimpin dan rakyat Indonesia berjiwa besar dan sehat maka praktik korupsi, kolusi dan nepotisme yang membahayakan masa depan bangsa dan negara akan jauh berkurang.  Jiwa yang besar dan sehat akan membuat orang Indonesia menjauhi kebohongan, kepalsuan, iri dengki, dendam, serakah, caci maki dan perilaku tidak baik lainnya. Jiwa yang besar dan sehat akan menumbuhkan manusia yang suka tolong menolong, gotong royong, rela berkorban, kejujuran, kebenaran, keadilan, tahu diri, memaafkan, bersabar, bersyukur, beribadah dan perilaku baik lainnya.

Jika orang-orang Indonesia banyak yang berjiwa besar dan sehat, maka kehidupan berbangsa dan bernegara akan lebih baik. Rakyat Indonesia akan saling bergotong-royong dan tolong menolong untuk menyukseskan pembangunan nasional dan menyelesaikan berbagai masalah bangsa dan negara. Saya mencoba memberikan impian sebuah kondisi  jika saat ini rakyat Indonesia jiwanya besar dan sehat. Jika kondisi ini terjadi, maka BGN tidak perlu membuat program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang banyak menyedot anggaran negara seperti yang terjadi saat ini. Sebab di kondisi tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) lebih berperan sebagai pendorong gerakan sosial masyarakat sehingga tidak perlu banyak membangun Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah seperti yang terjadi saat ini.

Ketika rakyat berjiwa besar dan sehat, BGN bisa mengadopsi kegiatan sedekah jumat yang sudah banyak dilakukan masyarakat, dimana masyarakat secara ikhlas memberikan makanan secara gratis kepada jamaah yang baru selesai sholat jumat. Jika semangat sedekah jumat ini diadopsi, BGN bisa mengajak orang tua siswa di sekolah-sekolah untuk secara rutin berbagi makanan bergizi gratis kepada teman-teman anaknya di sekolah yang orang tuanya tidak mampu. kegiatan ini juga bisa dilakukan murid-murid di sekolah yang kaya (mata air) untuk berbagi makanan bergizi gratis ke sekolah-sekolah yang kategori kurang mampu (air mata). Kegiatan ini bisa dilakukan lebih dari 1 minggu sekali ketika semangat gotong royong dan tolong menolong semakin tinggi. Gerakan seperti sedekah jumat ini bisa membuat sekolah tidak perlu mendapat MBG dari SPPG.

BGN bisa menghidupkan kembali program orang tua asuh yang dulu pernah diviralkan oleh pemerintah terdahulu, hanya diubah dalam bentuk   memberi makanan gratis secara rutin kepada para siswa yang tidak mampu. Orang tua asuh di organisir oleh komite sekolah dan bekerjasama dengan kantin sekolah untuk memberi makanan bergizi gratis kepada anak yang tidak mampu di sekolahnya. Bisa juga sekolah-sekolah yang kaya (mata air), komite sekolahnya bekerjasama dengan kantin-kantin di sekolah lain dimana  banyak anak dari keluarga tidak mampu ada di sekolah tersebut. Program ini akan membuat kantin-kantin sekolah bisa berkembang lebih baik dan anak-anak yang memperoleh bantuan Insya Allah tepat sasaran. Sehingga kejadian keracunan makanan dan sekolah kaya yang dapat jatah MBG bisa diminimalisir. Menghidupkan kembali orang tua asuh ini akan membuat banyak sekolah tidak perlu mendapat MBG dari SPPG. 

Ide ini saya dapat dari sebuah video tentang kebiasaan orang Turki berbagi makanan.  BGN bisa menggerakkan atau mengajak orang-orang kaya di lingkunang RT atau RW untuk memberikan sedekah secara berjamaah melalui warung makan berbasis masyarakat seperti warung tegal, rumah makan padang, dan warung makan yang berbasis kedaerahan lainnya, supaya masyarakat merasa cocok dengan makanannya sehingga tidak ada makanan yang tersisa. Sedekah yang diberikan itu dalam bentuk uang yang akan digunakan warung-warung tersebut untuk memberikan makan gratis kepada warga sekitar yang tidak mampu. Gerakan ini akan membuat rumah makan (UMKM) di sekitar bisa berkembang, masyarakat tidak mampu terjamin dalam hal makanan dan tidak perlu mendapat MBG dari SPPG.

BGN bisa mengajak lembaga amil zakat, infak dan sedekah untuk membuat SPPG swasta atau saya menyebutnya dapur umum.  Dapur umum  ini beroperasi tidak dari dana pemerintah tetapi sumbangan masyarakat, dan pekerjanya bisa dibayar seikhlasnya karena niatnya adalah membantu sesama. Dapur umum didirikan di tempat-tempat yang orang kayanya sedikit, karena gerakan-gerakan yang dituliskan sebelumnya tidak bisa dilaksanakan dengan baik di daerah tersebut. Dapur umum ini tidak boleh didirikan dekat warung makan berbasis masyarakat supaya tidak mematikan bisnisnya. Insya Allah konsep dapur umum ini akan mengurangi MBG dari SPPG.

Terakhir adalah BGN mendirikan SPPG seperti yang terjadi saat ini. Tentunya SPPG yang didirikan akan sangat jauh berkurang, karena masyarakat berpartisipasi dalam program MBG ini. SPPG yang dibangun pemerintah harus benar-benar tepat sasaran dan pengelola SPPG harus benar-benar professional dan akuntabel. Supaya tidak terjadi keracunan makanan, pemberian salah sasaran dan inefisiensi anggaran. Jika program-program yang saya tuliskan bisa dilaksanakan, efeknya akan terjadi banyak penghematan anggaran negara dari program BGN ini. Anggaran yang dihemat dari program BGN ini bisa digunakan untuk progam-program penting lainnya seperti menaikkan tunjangan guru dan dosen, beasiswa untuk pendidikan tinggi, riset di perguruan tinggi, program swasembada pangan, kesehatan masyakat, peningkatan alutsista dll.

 Program MBG dengan cara yang saya sampaikan, menurut keyakinan saya insya allah tidak akan memberatkan pemerintah berikutnya baik secara anggaran maupun operasionalnya. Sehingga insya Allah MBG ini akan menjadi program sepanjang masa. Jika MBG dijalankan seperti yang dilakukan seperti sekarang ini, dimana program BGN menyedot banyak anggaran negara dan banyak permasalahan-permasalahan yang terjadi, maka menurut keyakinan saya program MBG belum tentu akan dilanjutkan oleh pemerintahan berikutnya dan tentunya hal ini akan berdampak pada SPPG-SPPG yang sudah dibangun serta para pekerja yang mungkin sudah dijadikan PPPK.

Kalau saya boleh mengilustrasikan program MBG saat ini, (sebelumnya mohon maaf kalau saya salah), program MBG saat ini adalah seperti manusia yang punya bisul di beberapa bagian tubuhnya. Kemudian manusia tersebut menggunakan banyak uangnya untuk membeli banyak salep dan salep tersebut dioleskan hampir disekujur tubuhnya. Jadi bagian tubuh yang jauh dari lokasi bisul pun mendapatkan olesan salep. Akibat uangnya digunakan untuk beli salep, manusia tersebut mengurangi jatah untuk membeli obat batuk, obat diabetes, obat darah tinggi dan penyakit lainnya. Bahkan mungkin lupa untuk beli baju baru. Ketika sakit darah tinggi ternyata mulai terasa parah, bisa jadi pembelian salep dihentikan dan uang yang dimiliki fokus untuk membeli obat darah tinggi. Tulisan saya ini untuk memberi saran agar salep tersebut dioleskan pada bisulnya saja dan membangun imun tubuh supaya bisul tersebut bisa sembuh sendiri sehingga kebutuhan akan salep semakin sedikit, supaya dana yang awalnya digunakan untuk membeli salep bisa digunakan untuk membeli obat yang lain. (semoga para pembaca bisa paham ilustrasi ini).

Program BGN yang saya tuliskan ini mungkin hanya impian saya saja, karena belum tentu pemerintah mau mendirikan Institusi Jiwa Gizi Nasional (JGN). Sebab sependek pengetahuan saya setiap pemerintahan baru, yang diurusi kebanyakan sesuatu yang bersifat fisik dan akal saja, kalau pun ada yang bersifat mental itu hanya slogan semata. Hanya saja dalam tulisan ini saya sebagai rakyat jelata berdoa, semoga Allah memberikan Indonesia pemimpin bangsa yang mau membesarkan dan menyehatkan jiwa bangsa Indonesia. Jika orang Indonesia jiwanya besar dan sehat maka hal ini akan menjadi sistem imun yang membuat Indonesia bisa sembuh dari berbagai penyakit bangsa.

Pertanyaan besar sekarang adalah jika pemerintah tertarik membentuk insitusi Jiwa Gizi Nasional (JGN), bagaimana cara membentuk institusi Jiwa Gizi Nasional? Orang-orang seperti apa yang harus menjadi pemimpin dan anggotanya? Bagaimana sistem kerjanya untuk membentuk manusia Indonesia yang berjiwa besar dan sehat? Insya Allah jawaban tentang hal ini akan saya buat ditulisan berikutnya.

Bogor, 20 Januari 2026

Raden Ridwan Hasan Saputra

Pendiri Klinik Pendidikan MIPA

Email: prmipa@yahoo.com