Olympic Ahmad Dahlan (OlympicAD) hadir sebagai panggung besar bagi sekolah-sekolah Muhammadiyah se-Indonesia untuk menampilkan capaian terbaiknya. Dengan melibatkan lebih dari 8.000 peserta dari berbagai daerah, ajang ini siap melahirkan generasi unggul yang cerdas, kreatif, dan berakhlak mulia. OlympicAD menjadi momentum strategis untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, mempererat silaturahmi antar sekolah Muhammadiyah, serta memperkuat komitmen bersama dalam mencetak generasi yang siap menghadapi tantangan zaman dengan prestasi yang gemilang dan akhlak yang terpuji. Memasuki tahun ke-8 pelaksanaannya, OlympicAD diselenggarakan di Kampus Universitas Muhammadiyah Makassar yang meliputi olimpiade mata pelajaran, kreativitas siswa, guru dan kepala sekolah berprestasi, hingga sekolah berprestasi.

Klinik Pendidikan MIPA (KPM) hadir mengawal lahirnya juara pada olimpiade mata pelajaran (mapel) Matematika (jenjang SD hingga SMA), IPA (jenjang SD dan SMP), serta Fisika, Kimia, dan Biologi pada jenjang SMA. Melalui soal-soal yang terukur, menantang, dan berstandar tinggi, KPM berperan mengemban amanah sebagai tim pembuat soal dan dewan juri mapel tersebut.

Peserta mengikuti prosedur lomba yang dilaksanakan dalam tiga babak, yaitu babak penyisihan I, babak penyisihan II, serta babak final. Pada babak penyisihan I seluruh peserta mengerjakan soal plihan ganda berbasis smartphone dalam waktu 60 menit. Jumlah peserta yang diambil untuk babak penyisihan selanjutnya, yakni babak penyisihan II, adalah sebanyak sebanyak 30 peserta. Di babak penyisihan II, dengan format dan teknis pengerjaan soal yang sama, peserta diberi waktu pengerjaan selama 30 menit. Jumlah peserta yang diambil untuk babak final adalah sebanyak 15 peserta. Adapun format soal di babak final berupa soal uraian, dan nantinya dari 15 peserta tersebut akan ditentukan perolehan medali emas, perak dan perunggu yang masing-masing jumlahnya sebanyak 5 pemenang.

KPM memastikan setiap capaian prestasi diraih melalui proses berpikir yang logis, sistematis, dan mendalam. Di tangan para perumus dan dewan juri KPM, kompetisi tidak hanya menjadi ajang adu kecerdasan, tetapi juga ruang pembuktian kualitas, integritas, serta ketangguhan akademik para peserta.