Oleh: Raden Ridwan Hasan Saputra
Setelah bulan Ramadan 1447 H, semangat saya untuk menulis matematika yang dihubungkan dengan ayat-ayat di dalam Al Quran ternyata tidak berakhir. Setelah menulis tentang “Keunikan Bilangan 36 di dalam Al Quran” kemudian dilanjutkan dengan tulisan “Matematika Poligami dalam Al Quran”, akhirnya saya mencoba menulis tentang “Matematika pada Surat Al-‘Ashr”. Sebelumnya ingin saya sampaikan kembali, bahwa saya bukanlah ahli tafsir Al Quran, jadi sangat mungkin tulisan saya ada kesalahannya. Saya ingin juga mengatakan kalau saya adalah orang yang suka utak-atik matematika, sehingga mudah-mudahan tulisan yang saya buat ini ada manfaatnya.
Surat Al-‘Ashr ini adalah surat yang sering saya sampaikan dalam pelatihan suprarasional. Saya sering menyampaikan kalau surat ini tidak hanya menyampaikan tentang kerugian, tetapi surat ini juga menyampaikan tentang keberuntungan. Banyak para peserta pelatihan menjadi bingung kenapa surat ini bercerita tentang keberuntungan. Bisa jadi para pembaca juga bingung, kenapa surat ini bicara tentang keberuntungan. Sebelum saya jelaskan, ada baiknya kita perhatikan surat Al-‘Ashr ayat 1 – 3 yang terjemahannya sebagai berikut:
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
Dalam dunia matematika, ketika kita belajar logika matematika tentunya kita akan mengenal istilah invers, konvers dan kontraposisi. Supaya lebih paham saya akan coba jelaskan pengetian dari invers, konvers dan kontraposisi.
Misalkan terdapat bentuk implikasi p → q. Dari implikasi tersebut dapat dibentuk pernyataan baru sebagai berikut, yaitu:
1) Konvers: pernyataan berbentuk q → p
2) Invers: pernyataan berbentuk ~p → ~q
3) Kontraposisi: pernyataan berbentuk ~q → ~p
Tabel kebenaran dari Konvers, Invers dan Kontraposisi

- Implikasi nilai kebenarannya sama dengan kontraposisi
- Konvers nilai kebenarannya sama dengan invers
- Bentuk ~p adalah ingkaran atau negasi dari p
Mari kita hubungkan konsep logika matematika ini dengan surat Al-‘Ashr.
Misal:
p = ayat kedua: Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian
q = ayat ketiga: kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
~p = Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam keberuntungan
~q = Jika orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
Apabila
kita gunakan konsep Implikasi dimana nilai kebenarannya sama
dengan kontraposisi maka ayat ke 2 dan ke 3 surat Al-‘Ashr bentuk kebenaranya
sama dengan:
Jika
orang-orang
yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati
kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. Sesungguhnya
manusia itu benar-benar dalam keberuntungan.
Apabila kita merenungi dua pernyataan ini, tentunya kita
sepakat bahwa surat Al-‘Ashr berisi tentang keberuntungan dengan kriteria orang-orang
yang beruntungnya adalah yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat
menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi
kesabaran. Setelah memahami surat Al-‘Ashr sebagai surat untuk menjadi
orang beruntung, semoga kita semangat untuk melaksanakan 3 kriteria untuk
menjadi orang-orang beruntung tersebut.
Apabila direnungkan lebih mendalam, saya melihat konsep matematika yang berperan di surat Al-‘Ashr tidak hanya berhubungan dengan logika matematika, tetapi juga berhubungan dengan koordinat kartesius tiga dimensi (x, y, z) jika dihubungkan dengan tiga kriteria orang beruntung yaitu orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasihati supaya menetapi kesabaran. Surat Al-‘Ashr juga berhubungan dengan fungsi waktu jika kita hubungkan ayat pertama “Demi masa”. Jika 3 kriteria tersebut di gambarkan dalam koordinat kartesius 3 dimensi, maka akan ada 3 sumbu yang terdiri dari sumbu-y keimanan, sumbu-x amal sholeh dan sumbu-z saling menasehati (posisi-posisi sumbunya sengaja saya buat beda dengan diagram kartesius biasanya). Ketiga sumbu ini akan membentuk bangun kotak yang bisa berbentuk balok atau kubus. Bangun kotak itu saya menyebutnya sebagai wadah keberuntungan atau wadah rezeki.

Seiring
berjalannya waktu ukuran dari kotak tersebut bisa membesar dan mengecil, karena
tergantung dari dinamisnya keimanan, amal saleh dan saling menasehati dalam
kebenaran dan kesabaran (iman bisa meningkat dan bisa menurun). Jika keimanan meningkat,
amal saleh meningkat dan saling
menasehati meningkat, maka kondisi ini membuat volume wadah keberuntungan atau wadah rezeki membesar,
dampaknya keberuntungan atau rezeki orang tersebut bertambah besar. Contoh
nyata pada kasus ini adalah pada bulan Ramadan. Ketika keimanan meningkat, amal
saleh meningkat dan saling menasehati meningkat maka rezeki pun meningkat
diantaranya dalam bentuk THR dan parcel.
Ketika
keimanan menurun, amal saleh menurun dan saling menasihati dalam kebenaran dan
kesabaran juga menurun, maka volume wadah
keberuntungan atau wadah rezeki menurun. Akibatnya, keberuntungan atau rezeki
orang tersebut menurun. Contoh nyata adalah setelah bulan Ramadan selesai.
Biasanya rezeki pun menurun karena aktivitas ibadah kita juga menurun. Melihat
fenomena keberuntungan berdasarkan wadah rezeki ini, maka ketika keimanan
sedang menurun, upayakan amal saleh ditingkatkan dan saling menasihati juga ditingkatkan
supaya volume wadah keberuntungan atau wadah rezeki tidak berkurang.
Sebenarnya
jika direnungkan lebih mendalam, profesi pendidik seperti guru dan ustadz
berpeluang besar untuk menjadi orang yang lebih beruntung dibandingkan dengan
orang yang mempunyai profesi lain, karena guru atau ustadz bisa bisa saling
menasehati dalam kebenaran dan kesabaran kepada murid-muridnya, sementara
profesi lain belum tentu punya kesempatan untuk memberikan nasihat. Uniknya, di
Indonesia banyak guru dan ustadz yang nasibnya kurang beruntung (gajinya
kecil). Tentang masalah guru dan ustadz, akan dibahas dalam tulisan lain.
Semoga
dengan penjelasan matematika di Surat Al-‘Ashr bisa membuat para pembaca melihat dengan cara yang berbeda
makna dari surat Al-‘Ashr. Pertama, melihat surat Al-‘Ashr sebagai surat yang berbicara
tentang keberuntungan. Kedua, kita bisa melakukan berbagai cara agar hidup kita
selalu beruntung. Semoga tulisan ini bermanfaat. Silakan berkomentar di email
dan nomor HP yang saya siapkan.
Tulisan
ini adalah penghantar untuk tulisan saya berikutnya yang akan menjelaskan
kenapa pahala sholat berjamaah 25 dan 27 derajat. Apakah Anda tertarik untuk
membaca tulisan saya berikutnya?
Bogor,
22 Maret 2026
Raden Ridwan Hasan Saputra
Presdir
Klinik Pendidikan MIPA
Motivator
suprarasional
Kaprodi
Pendidikan Matematika FKIP UIKA Bogor
HP:
0812-8034-1100
Email:
prmipa@yahoo.com