Dalam rangka memperingati Hari Guru 2025, Klinik Pendidikan MIPA (KPM) menyelenggarakan Pelatihan Penguatan Numerasi bagi Guru Pesantren pada Jumat, 21 November 2025, di Kantor KPM Pusat, Bogor secara gratis. Puluhan guru dari berbagai pesantren di wilayah Bogor hadir mengikuti kegiatan ini, sebagai bentuk komitmen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di lingkungan pesantren. Kegiatan ini menjadi ikhtiar KPM dalam memperkuat peran guru pesantren membangun generasi santri yang cerdas secara akal, matang secara karakter, dan siap menghadapi tantangan zaman.
Selama ini, pesantren dikenal sebagai pusat pembinaan akhlak dan adab. Namun, tuntutan pendidikan abad 21 menjadikan kemampuan bernalar, berpikir logis, dan memahami numerasi secara kontekstual sebagai kebutuhan penting bagi para santri. Karena itu, pelatihan ini dirancang untuk membantu guru menghadirkan pembelajaran matematika yang kreatif, aplikatif, dan bermakna, bukan sekadar hafalan rumus. Para peserta diajak merancang strategi pembelajaran yang dekat dengan kehidupan santri sehingga proses belajar lebih mudah dipahami, menyenangkan, dan mengembangkan kemampuan bernalar.
Materi yang diberikan mencakup Literasi Numerasi Matematika Nalaria Realistik (MNR) serta strategi mengajar matematika dengan pendekatan kontekstual. Melalui pendekatan MNR yang menekankan penggunaan nalar sebelum berhitung, guru dibimbing untuk menghadirkan pembelajaran matematika yang lebih masuk akal dan relevan dengan kehidupan sehari-hari di pesantren. Selain itu, peserta juga mempraktikkan penyelesaian soal berbasis penalaran dan berdiskusi mengenai tantangan pengajaran matematika di kelas.
Sesi suprarasional yang disampaikan oleh Dr. Raden Ridwan Hasan Saputra, M.Si., selaku Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA, menjadi salah satu bagian paling berkesan bagi peserta. Beliau menekankan bahwa kekuatan seorang pendidik tidak hanya bergantung pada penguasaan materi, tetapi juga pada keikhlasan dan ketulusan dalam menyampaikan ilmu. Beliau mengingatkan bahwa guru idealnya menjadi “karyawan Allah”, yaitu pendidik yang bekerja dengan penuh keikhlasan agar rezekinya dijaga langsung oleh Allah. Beliau juga menegaskan bahwa numerasi bukan sekadar kegiatan berhitung, tetapi kemampuan berpikir dan bernalar dengan cara yang matematis.
Kegiatan ini berlangsung dengan penuh antusias. Suasana kelas hidup mulai dari penyampaian materi, praktik pemecahan soal, hingga sesi tanya jawab. Dalam sambutannya, Irvan Sanjaya, S.E., selaku Kepala Divisi Kaderisasi dan Pengembangan Jaringan KPM menyampaikan harapan besar bagi para peserta. “Saya berharap pelatihan ini menjadi pintu pembuka bagi guru pesantren untuk menghadirkan pembelajaran matematika yang lebih kontekstual, menyenangkan, dan penuh nilai. Semoga ilmu yang didapat hari ini dapat langsung diterapkan di kelas dan menjadi keberkahan bagi para santri,” ujarnya.
Sejumlah peserta memberikan kesan positif terhadap pelatihan ini. Muhammad Reynajar, guru dari MilBos Internasional, Bogor, mengungkapkan bahwa ia mendapatkan sudut pandang baru dalam mengajar matematika. Menurutnya, matematika bukan sekadar memberikan rumus, tetapi bagaimana membuat santri benar-benar memahami konsep melalui nalar.
Ia juga mengapresiasi KPM yang menyelenggarakan pelatihan ini secara gratis. “Saya sangat takjub setelah mengikuti pelatihan ini jadi tahu bahwa mengajar matematika itu bukan hanya memberikan ilmu, tetapi bagaimana memahamkan santri atau murid dengan cara yang mudah dipahami salah satunya dengan metode MNR ini. Dengan begitu, mereka mengerti apa yang kita sampaikan. Saya juga kagum dengan keikhlasan KPM, apalagi kegiatan ini diselenggarakan tanpa memungut biaya. Saat diberikan soal yang melatih nalar, saya merasakan bahwa matematika sebenarnya sederhana ketika kita menggunakan nalar dengan baik,” ujarnya.
Annisa Istiqomah, S.T., guru dari Madrasah Tahfizh An-Nashr Parung, Bogor, menyampaikan bahwa pelatihan ini membuka wawasannya tentang berbagai cara bernalar dalam menyelesaikan soal. Ia merasa metode MNR yang diajarkan membuat matematika lebih logis, fleksibel, dan menyenangkan. “Ternyata satu soal bisa diselesaikan dengan banyak cara. Setelah ini saya pasti menerapkan metodenya di kelas,” tuturnya.
Sementara itu, Ade Daniar Herawati, M.Pd., dari Pondok Pesantren Attaqwa Putri, Bekasi, menyoroti manfaat pelatihan ini dari dua sisi sekaligus yaitu sisi keilmuan dan sisi spiritual. Ia menjelaskan bahwa di pesantrennya, jam pelajaran matematika sangat terbatas karena padatnya kurikulum kepesantrenan. Karena itu, guru dituntut untuk mencari strategi agar konsep matematika tetap dapat dipahami siswa dengan baik. “Alhamdulillah banyak insight baru yang saya dapat. Tidak hanya soal cara mengajar, tetapi juga ilmu tentang rezeki yang disampaikan Pak Ridwan bahwa ada rezeki materi dan ada rezeki gaib. Itu sangat menguatkan hati kami sebagai guru,” tuturnya.
Ia juga menyampaikan keinginan untuk menjalin kerja sama lanjutan dengan KPM karena model pelatihan yang diberikan sangat relevan dan bermanfaat.
Testimoni para peserta tersebut menunjukkan bahwa pelatihan ini tidak hanya memberikan pengetahuan teknis, tetapi juga membawa perubahan cara pandang, menambah motivasi, dan memberikan dorongan spiritual bagi para guru pesantren untuk semakin ikhlas dan kreatif dalam mendidik para santri.
Sebagai bagian dari rangkaian Spesial Hari Guru, kegiatan ini menjadi wujud kontribusi KPM dalam mendampingi para pendidik, khususnya guru pesantren agar mampu menghadirkan pembelajaran matematika yang relevan, bermakna, dan menyenangkan bagi para santri. Semoga langkah kecil ini memberi dampak besar dalam mencerdaskan hati, akal, dan pancaindra pendidik Indonesia.