Indonesia kembali menorehkan prestasi membanggakan di kancah internasional dalam ajang International Young Mathematicians’ Convention (IYMC) 2025 yang diselenggarakan oleh City Montessori School (CMS), di Lucknow, India pada 3–6 November 2025.
IYMC merupakan ajang bergengsi dua tahunan yang mempertemukan para pelajar berbakat di bidang matematika dari berbagai negara. Setelah sempat digelar secara daring pada tahun 2022, tahun ini merupakan edisi ke-10 dan kembali diadakan secara luring dengan suasana yang lebih semarak. Kompetisi ini diikuti oleh 244 peserta yang terdiri dari 126 peserta tingkat Junior (SMP) dan 118 peserta tingkat Senior (SMA) yang berasal dari 10 negara, yaitu Bangladesh, Indonesia, India, Nepal, Filipina, Thailand, Afrika Selatan, Uganda, Vietnam, dan Malaysia.
Peserta terbagi dalam tiga kelompok besar, yakni peserta internasional, nasional (dari berbagai sekolah di India), dan lokal (dari cabang-cabang CMS di berbagai kota India). Ajang ini bukan sekadar kompetisi, tetapi juga forum kolaborasi ilmiah dan budaya antarbangsa untuk menumbuhkan kecintaan terhadap matematika.
Tahun ini, delegasi Indonesia mengikuti kompetisi pada Level Senior dan berpartisipasi dalam empat jenis lomba, yaitu: Individual Contest, Team Contest, Puzzle Contest, Quiz Pi Competition
Melalui perjuangan yang gigih dan semangat juang tinggi, tim Indonesia berhasil meraih hasil:
Medali Emas:
Danish Ahmad Satria (Kelas 11) - SMA Labschool Kebayoran
Faiq Nururrahman Hutrindo (Kelas 8) - SMP Cahaya Rancamaya
Medali Perunggu:
Teuku Athmarsyah Ali (Kelas 10) - SMA Kharisma Bangsa
Penghargaan Champion
Team Contest
Puzzle Contest
Quiz Pi Competition
Best Overall Senior Team
Tak hanya itu, Danish Ahmad Satria juga berhasil meraih nilai tertinggi untuk level Senior di ajang IYMC 2025 ini, sebuah pencapaian yang menunjukkan keunggulan kolaborasi, kreativitas, dan kemampuan berpikir inovatif siswa Indonesia dalam memecahkan persoalan matematika secara efisien.
Tak hanya berkompetisi, para peserta juga mengikuti berbagai kegiatan inspiratif seperti Math Fair (Pameran Matematika) dan Cultural Exchange Night. Pada Math Fair, delegasi Indonesia menampilkan permainan edukatif berbasis logika seperti Puzzle Kayu, Tic Tac Toe, dan permainan NARA yang sukses menarik perhatian banyak pengunjung. Stand Indonesia menjadi salah satu yang paling ramai dikunjungi, menandakan tingginya antusiasme terhadap kreativitas anak-anak Indonesia dalam memadukan seni, logika, dan permainan edukatif.
Selain kegiatan akademik dan budaya, peserta juga diajak mengenal kekayaan sejarah dan budaya India melalui kunjungan ke beberapa destinasi ikonik seperti Museum Imam Bara, Babasaheb Ambedkar Memorial Park, dan Lulu Mall. Kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran kontekstual yang memperluas wawasan global dan mempererat persahabatan antarbangsa.
Menurut Thyeadi Tungson, S.T., M.Si., selaku Academic Committee dan Team Leader Indonesia, keberhasilan ini bukan semata tentang medali, melainkan tentang pengalaman berharga yang membentuk karakter dan cara berpikir siswa.
“Alhamdulillah, peserta dari Indonesia yang diwakili oleh siswa-siswa KPM mendapatkan hasil yang maksimal. Tapi yang lebih penting, mereka mendapatkan banyak pengalaman dan teman. IYMC bukan hanya kompetisi, tapi juga tempat para siswa mengimplementasikan kemampuan matematika mereka melalui berbagai aktivitas. Apa yang dicapai siswa KPM membuat mereka makin dekat dengan teman-teman internasionalnya. Semoga mereka bisa terus berkomunikasi di masa depan,” ujarnya.
Ia juga menambahkan,
“IYMC ini diadakan dua tahun sekali. Semoga pada IYMC mendatang, lebih banyak siswa Indonesia yang berpartisipasi, karena kompetisi ini unik dan penuh kegiatan yang bermanfaat.”
Di balik deretan medali yang berhasil diraih, tersimpan kisah perjuangan dan pembelajaran yang berharga dari para delegasi muda Indonesia. Bagi mereka, IYMC bukan hanya ajang untuk menguji kemampuan matematika, tetapi juga pengalaman lintas budaya yang membentuk karakter, menumbuhkan kepercayaan diri, serta mengajarkan arti kerja sama dan keikhlasan dalam berjuang.
Bagi Danish, IYMC bukan sekadar lomba matematika, tetapi perjalanan berharga yang mengajarkan arti tanggung jawab, disiplin, dan kerja sama.
“Perasaan saya sangat bangga dan senang. Alhamdulillah saya berhasil meraih medali emas untuk kategori individual, dan kami semua menjadi champion di semua kategori lomba. Rasanya luar biasa,” ungkap Danish.
Ia mengaku sempat diliputi ketegangan sebelum lomba dimulai, justru dari situ ia belajar mengelola rasa cemas dan menyalurkannya menjadi semangat.
“Kadang saya merasa tegang dan stres juga, tapi saat lomba berlangsung saya berusaha tenang dan fokus. Ketika tahu jawabannya, rasanya lega dan bangga sekali. Saya juga senang bisa mengenal banyak teman baru dan mempelajari budaya mereka. Hal baru yang saya dapat dari perjalanan ini adalah kedisiplinan dan rasa percaya diri yang lebih besar,” tambahnya.
Sementara, Faiq adalah peserta termuda di antara tim Indonesia, namun semangatnya tak kalah membara. Meski berstatus siswa SMP, ia berkompetisi di kategori Senior Level (SMA).
“Ini merupakan lomba senior pertama saya. Awalnya target saya hanya ingin dapat perunggu, tapi Alhamdulillah hasilnya lebih dari itu,” tutur Faiq dengan rasa bangga
Ia mengaku tantangan terbesar bukan hanya soal-soal yang sulit, tapi juga komunikasi antar peserta.
“Meskipun merasa sempat susah berkomunikasi dengan teman dari India, apalagi melihat logat dari India yang terlalu kuat jadi bahasa inggrisnya kurang terdengar jelas, Bahasa inggris saya hanya cukup tidak melebihi, jadi agak susah memahami soal literasi pada saat lomba maupun pada saat latihan soal.”
Di akhir wawancara, Faiq tak lupa menyampaikan rasa terima kasihnya.
“Terima kasih kepada KPM dan orang tua saya yang sudah memberi izin dan dukungan penuh untuk ikut IYMC ini. Pengalaman ini benar-benar tidak akan saya lupakan.”
Bagi Teuku, pengalaman di IYMC menjadi salah satu momen paling berharga dalam hidupnya.
“Saya sangat senang dan bangga bisa ikut IYMC dan mendapatkan medali. Tidak menyangka bisa sampai sejauh ini. Banyak hal baru yang saya pelajari, mulai dari ketelitian, mengatur waktu saat mengerjakan soal, hingga belajar tetap tenang menghadapi soal-soal sulit. Terima kasih untuk orang tua, KPM, dan semua yang telah mendukung saya.”
Prestasi para delegasi Indonesia di IYMC 2025 menjadi bukti bahwa matematika bukan hanya soal angka dan rumus, tetapi juga tentang kerja sama, kreativitas, dan keikhlasan dalam berpikir. Melalui kegiatan seperti ini, generasi muda Indonesia belajar bagaimana berpikir kritis dengan hati yang cerdas dan akal yang bernalar, sesuai dengan semangat KPM dalam membentuk insan suprarasional yang mencintai ilmu dan kemanusiaan.