Menggabungkan literasi, numerasi, logika, dan nilai-nilai kehidupan dalam satu kompetisi, Klinik Pendidikan MIPA (KPM) sukses menyelenggarakan Kompetisi Literasi Numerasi Suprarasional 2026 secara daring pada Minggu, 7 Juni 2026. Sebanyak 191 peserta yang terdiri atas siswa, mahasiswa, guru, dan masyarakat umum dari berbagai daerah di Indonesia berpartisipasi dalam ajang yang dirancang untuk melatih kemampuan berpikir kritis sekaligus membangun pola pikir suprarasional.
Pelaksanaan kompetisi dibagi ke dalam dua sesi dengan total durasi 90 menit. Pada sesi pertama, peserta mengikuti ceramah materi yang disampaikan Dr. Raden Ridwan Hasan Saputra, M.Si., selaku Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA (KPM) melalui Zoom Meeting. Materi yang dipaparkan kemudian menjadi dasar dalam pengerjaan soal pada sesi kedua yang dilaksanakan secara online.
Dalam penyampaiannya, Pak Ridwan menekankan bahwa manusia perlu memiliki pola pikir yang berbeda di tengah perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, termasuk hadirnya Artificial Intelligence (AI).
“Di masa depan tantangan pekerjaan akan semakin besar karena adanya AI. Banyak pekerjaan bisa tergantikan, sehingga manusia harus memiliki nilai lebih dalam hidupnya. Jangan hanya berpikir tentang materi, tetapi pikirkan juga bagaimana kita memiliki tabungan jiwa dan amal saleh yang bermanfaat,” ungkapnya.
Beliau juga menjelaskan bahwa tujuan utama kompetisi ini adalah melatih kemampuan bernalar sekaligus membangun cara berpikir yang lebih logis dan suprarasional.
“KPM ingin membangun cara berpikir manusia agar lebih baik. Tidak hanya mengejar keuntungan materi, tetapi juga berpikir tentang kontribusi dan kebermanfaatan bagi sesama,” tambahnya.
Soal-soal yang diberikan dalam kompetisi terdiri atas berbagai tingkat kesulitan, mulai dari soal perhitungan tingkat SD hingga SMP, serta beberapa soal yang mengadopsi pendekatan bernuansa olimpiade. Peserta dituntut untuk memahami materi ceramah, berpikir kritis, menganalisis informasi secara logis, serta menghubungkan konsep numerasi dengan pesan-pesan kehidupan yang disampaikan. Melalui format tersebut, kompetisi ini tidak hanya menguji kemampuan akademik peserta, tetapi juga kemampuan bernalar dan mengambil hikmah dari materi yang dipelajari.
Sebagai bentuk apresiasi atas prestasi peserta, para pemenang akan memperoleh medali dan E-Sertifikat. Penghargaan ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi peserta untuk terus mengembangkan kemampuan literasi, numerasi, dan berpikir kritis dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu peserta kategori siswa, Nadira Filzah Assyifa dari Kota Palu, Sulawesi Tengah, mengaku tertarik mengikuti kompetisi ini untuk mengasah kemampuan berpikirnya melalui pendekatan yang berbeda.
“Saya ingin menguji sekaligus mengasah kemampuan literasi dan numerasi saya melalui metode suprarasional yang unik, agar saya bisa berpikir lebih kritis dan kreatif dalam memecahkan masalah. Awalnya saya merasa gugup, namun setelah menjalaninya saya merasa bangga pada diri sendiri karena berani keluar dari zona nyaman,” ujarnya.
Nadira mengaku mendapatkan pengalaman baru melalui kompetisi ini, termasuk kesempatan mengikuti materi yang disampaikan oleh Pak Ridwan, yang menurutnya membantu mengasah logika dan kemampuan berpikirnya.
Sementara itu, Frediyansyah, S.E., S.Pd., Gr., seorang guru dari Kota Singkawang, Kalimantan Barat, menilai kompetisi ini memiliki keunikan karena tidak hanya menguji kemampuan akademik, tetapi juga menghubungkan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai kehidupan.
“Saya tertarik mengikuti Kompetisi Literasi Numerasi Suprarasional karena kompetisi ini tidak hanya menguji kemampuan berpikir logis dan numerik, tetapi juga mengajak peserta memahami keterkaitan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai kehidupan. Selain menambah wawasan, kompetisi ini melatih kemampuan analisis, pemecahan masalah, dan cara berpikir yang lebih luas serta mendalam,” tuturnya.
Menurut Pak Frediyansyah, soal-soal yang menggabungkan literasi, numerasi, dan penalaran logis menjadi bagian yang paling menarik.
“Soal seperti ini menantang saya untuk tidak hanya menghitung, tetapi juga memahami informasi, menganalisis hubungan antaride, dan menarik kesimpulan yang tepat. Selain menantang, soal-soal tersebut juga memberikan wawasan baru tentang cara berpikir yang lebih kritis dan mendalam,” jelasnya.
Peserta lainnya, Naufal Azwar Nawwarudin Kilwo, mahasiswa asal Ambon, Maluku, mengaku tertarik mengikuti Kompetisi Literasi Numerasi Suprarasional untuk mengembangkan kemampuan berpikir logis, analitis, dan pemecahan masalah. “Saya merasa senang karena mendapatkan pengalaman yang sangat bermanfaat. Soal yang paling menarik bagi saya adalah soal yang menggabungkan kemampuan membaca informasi dengan analisis data, sehingga saya belajar memahami data, menemukan pola, dan mengambil kesimpulan yang tepat,” ujar Naufal.
Melalui pelaksanaan Kompetisi Literasi Numerasi Suprarasional 2026 ini, KPM berharap peserta tidak hanya berkembang dalam kemampuan akademik, tetapi juga memiliki pola pikir yang lebih luas, logis, kritis, serta berorientasi pada nilai-nilai kebaikan dan ridho Allah dalam kehidupan sehari-hari. Kompetisi ini diharapkan menjadi salah satu sarana untuk membentuk generasi yang cerdas secara intelektual sekaligus memiliki karakter yang kuat dan bermanfaat bagi masyarakat.
KPM akan terus berinovasi menghadirkan program dan kompetisi yang tidak hanya mengembangkan kemampuan akademik, tetapi juga membangun karakter, kreativitas, dan pola pikir peserta. Salah satu inovasi terbaru yang saat ini sedang dibuka adalah Lomba Video Suprarasional dengan tema "Merencanakan Kesusahan" yang terbuka bagi masyarakat umum, guru, mahasiswa, dan pelajar di seluruh Indonesia.
Bagi yang tertarik mengikuti kompetisi ini, pendaftaran dapat dilakukan melalui bit.ly/VideoSuprarasional. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi narahubung 0813-1034-3400. KPM mengajak seluruh masyarakat untuk turut berpartisipasi dan menyebarkan inspirasi melalui karya video yang kreatif dan bermakna.

