Klinik Pendidikan MIPA (KPM) kembali menghadirkan pelatihan inspiratif melalui Pelatihan Suprarasional bertajuk “Menjadi Orang Cerdas di Era Post-Generative AI”. Program ini menjadi bagian dari upaya KPM dalam mendorong lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan visi hidup yang kuat.

Kegiatan ini terselenggara atas undangan DKM Al Ikhlas Laladon Indah dan diikuti oleh 31 peserta yang terdiri dari perwakilan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) serta jamaah, termasuk peserta dari luar daerah seperti Jakarta. Pelatihan dilaksanakan di Kantor Pusat Klinik Pendidikan MIPA (KPM), Laladon, Bogor, dan berlangsung dari pukul 08.00 hingga 15.00 WIB pada Minggu, 03 Mei 2026.

Pelatihan ini menghadirkan Dr. Raden Ridwan Hasan Saputra, M.Si. selaku Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA sebagai pembicara tunggal, serta turut dihadiri oleh Prof. Nahrawi selaku Ketua DKM Al Ikhlas Laladon Indah. Kegiatan ini tidak hanya menjadi forum pembelajaran, tetapi juga ruang refleksi bagi para peserta dalam memaknai peran diri, pekerjaan, serta kontribusi terhadap masyarakat.

Dalam sambutannya, Prof. Nahrawi menyoroti urgensi materi pelatihan ini untuk diperluas jangkauannya agar tidak hanya dipahami oleh kalangan terbatas. Ia memaparkan visi besarnya agar konsep pemikiran suprarasional dapat menjangkau para pengelola rumah ibadah di seluruh Indonesia.

“Pelatihan seperti ini seharusnya ada dan menjadi sebuah kebutuhan. Harapan besarnya, program ini ke depannya bisa diikuti oleh seluruh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) dan pengurus masjid se-Indonesia,” tegasnya di hadapan para peserta.

Dalam pelatihan ini, peserta dibekali dengan cara berpikir suprarasional sebagai bekal menghadapi era post-generative AI, sebuah era di mana kecerdasan buatan berkembang pesat dan menuntut manusia untuk memiliki keunggulan yang lebih dari sekadar kemampuan teknis. Pendekatan ini menekankan pentingnya keseimbangan antara kecerdasan hati, akal, dan tujuan hidup.

Pelatihan dibagi ke dalam tiga sesi utama, yaitu Menjadi Karyawan Allah, Memaksimalkan Tabungan Jiwa, dan Merencanakan Kesusahan.

Pada sesi pertama, peserta diajak untuk memaknai seluruh aktivitas kehidupan sebagai bagian dari ibadah dan pengabdian kepada Allah SWT. Sesi kedua menekankan pentingnya memperbanyak amal kebaikan serta memberikan manfaat bagi orang lain sebagai “tabungan jiwa” yang bernilai jangka panjang.

Sesi ketiga, Merencanakan Kesusahan, menjadi bagian yang paling menarik sekaligus membedakan pelatihan ini dari kegiatan sejenis. Pada sesi ini, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga langsung terlibat dalam praktik nyata. Mereka dibagi ke dalam kelompok kecil untuk merancang berbagai aktivitas kebaikan yang memberikan manfaat bagi orang lain.

Setiap kelompok kemudian mendokumentasikan rencana tersebut dalam bentuk video dan mempresentasikannya di hadapan peserta lainnya. Kegiatan ini tidak hanya melatih kemampuan berpikir dan berkolaborasi, tetapi juga menumbuhkan empati serta kesadaran akan pentingnya kontribusi sosial.

Suasana pelatihan berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Para peserta aktif berdiskusi, berbagi pengalaman, serta menyampaikan refleksi mendalam dari praktik yang telah mereka lakukan. Banyak di antara peserta yang mengaku mendapatkan sudut pandang baru dalam memaknai peran masjid di tengah masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Pak Ridwan menyampaikan harapannya agar pelatihan ini dapat menjadi pemicu lahirnya berbagai program DKM dan masjid yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat, seperti pembelajaran matematika, bahasa Inggris, dan berbagai kegiatan edukatif lainnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Prof. Nahrawi yang memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia menilai pelatihan ini mampu membuka wawasan baru bagi para pengurus DKM dalam mengembangkan program masjid yang lebih inovatif, relevan, dan berdampak bagi masyarakat sekitar.

Menariknya, pelatihan ini merupakan bagian dari program KPM yang dapat dihadirkan oleh DKM atau lembaga lain dengan konsep yang sangat sederhana dan mudah diakses. Pak Ridwan menyampaikan bahwa Pelatihan Suprarasional “Menjadi Orang Cerdas di Era Post-Generative AI” dapat diselenggarakan dengan lima syarat utama, yaitu:

  • Tidak diberi honor 

  • Tidak diberi bingkisan

  • Jangan disiapkan transportasi

  • Jangan disiapkan penginapan 

  • Pelatihan dilaksanakan jika pembicara bersedia melatih

Bahkan, sebagai bentuk komitmen dakwah dan kontribusi nyata, Pak Ridwan juga akan memberikan infaq sebesar Rp1.000.000 kepada DKM yang mengundangnya.

Dengan konsep yang sederhana namun berdampak ini, KPM berharap semakin banyak masjid dan lembaga yang dapat menghadirkan pelatihan inspiratif tanpa terbebani biaya. Lebih dari itu, pelatihan ini diharapkan mampu mendorong transformasi masjid menjadi pusat kebaikan, pembelajaran, dan pemberdayaan masyarakat di era yang terus berkembang.

Bagi Sahabat KPM yang ingin mengundang Tim KPM terkait Pelatihan Suprarasional “Menjadi Orang Cerdas di Era Post-Generative AI”, silakan menghubungi KPM melalui narahubung 0821-1435-8620.