Tulisan ini dibuat untuk memperingati hari Pendidikan Nasional di tahun 2026. Judul tulisan ini tentunya membuat para pembaca penasaran, memang ilmu apa yang lupa diajarkan oleh negara? Tentunya saya tidak akan langsung menjawab  pertanyaan tersebut, karena kalau saya langsung jawab, para pembaca belum tentu langsung setuju dengan jawaban yang saya sajikan.

Saya ingin mengingatkan  kita semua tentang pembukaan UUD 1945 yang di dalamnya ada kalimat “Atas berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa…”, kalimat tersebut menunjukkan bahwa para pendiri bangsa meyakini adanya peran Allah dalam kemerdekaan Indonesia. Keyakinan kepada Allah tentunya tidak datang begitu saja, tentunya keyakinan ini diperoleh karena proses belajar dan upaya/tirakat yang membuat keyakinan kepada Allah semakin tinggi. Keyakinan tersebut bisa dilihat dari UUD 1945 yang berhasil dibuat dan teladan-teladan kepemimpinan masa lalu yang saat ini hanya tinggal cerita.

Jika kita renungkan lebih mendalam tentang keyakinan kepada Allah maka ujungnya adalah keyakinan kepada yang gaib atau keyakinan kepada yang tak terlihat seperti kepada Allah, kepada malaikat, kepada kitab, kepada nabi, kepada hari kiamat dan kepada takdir. Keyakinan kepada yang gaib membuat manusia menjadi rajin melakukan perbuatan baik seperti ibadah dan bersedekah. Keyakinan kepada yang gaib pula yang menyebabkan manusia enggan melakukan perbuatan jahat seperti korupsi, kolusi, nepotisme dan perbuatan dosa lainnya. Keyakinan kepada yang gaib ini sangat dibutuhkan di situasi negara seperti sekarang ini. Supaya kita bisa mencegah korupsi, kolusi dan nepotisme yang akan menyeret negeri ini terjerumus pada jurang kehancuran

Keyakinan kepada yang gaib tidak datang begitu saja tetapi harus diajarkan dan dipraktikkan. Menurut saya selama ini negara abai tentang hal tersebut, negara tidak pernah mengupayakan mendidik manusia Indonesia untuk meyakini yang gaib. Di pendidikan nasional tidak ada mata pendidikan yang mengajak para murid dan guru untuk meyakini yang gaib, kalaupun ada pelajaran agama di sekolah, masih jauh dari harapan untuk mewujudkan target meyakini yang gaib, baik itu dalam niat, ucapan dan perbuatan. Hal yang tidak kalah penting adalah keyakinan kepada yang gaib juga harus diajarkan kepada seluruh rakyat Indonesia termasuk para pejabat dan aparatur negara dari tingkat terendah sampai tertinggi.   Bagaimana cara mengajarkan keyakinan kepada yang gaib? Insya Allah saya tahu jawabannya dan saat ini pun sudah sering saya ajarkan.

Bogor, 1 Mei 2026

Raden Ridwan Hasan Saputra

Presdir Klinik Pendidikan MIPA

Motivator Suprarasional

Kaprodi Pendidikan Matematika FKIP UIKA Bogor

HP: 0812-8034-1100

Email: prmipa@yahoo.com