Puncak perjuangan akhirnya tiba! Setelah melewati babak penyisihan yang kompetitif, ribuan peserta terbaik dari seluruh Indonesia berkumpul dalam Babak Final Kompetisi Matematika Nalaria Realistik dan Olimpiade Guru Matematika yang sukses digelar pada Sabtu, 26 April 2026 di UTCC (Universitas Terbuka Convention Center) – Tangerang Selatan. Ajang bergengsi yang diselenggarakan oleh Klinik Pendidikan MIPA ini menjadi momen istimewa yang mempertemukan para pejuang matematika terbaik bangsa dalam satu panggung prestasi.
Sebanyak 1.881 finalis KMNR ke-21 dan 206 finalis OGM ke-11 hadir dengan penuh semangat untuk memberikan yang terbaik. Tidak hanya para peserta, ribuan orang tua, guru pembimbing, kepala sekolah, dan rombongan dari berbagai daerah turut memadati area acara, menciptakan suasana megah, meriah, dan penuh antusiasme sejak pagi hari.
Acara final dibuka secara resmi oleh Dr. Raden Ridwan Hasan Saputra, M.Si., selaku Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA (KPM). Dalam sambutannya, Beliau menyampaikan pesan mendalam mengenai filosofi kompetisi ini:
“KMNR bagi saya adalah tempat untuk merencanakan kesusahan bagi siswa. InsyaAllah mendatangkan keberkahan. Maka insyaAllah para finalis KMNR ini akan menjadi orang-orang hebat di masa depan. KMNR adalah tempat bertemu teman, bahkan mitra bisnis di masa depan. Maka kalau bertemu di sini, bersahabatlah”.
Kalimat tersebut menjadi penyemangat sekaligus pengingat bahwa proses perjuangan dalam belajar akan membentuk pribadi yang tangguh dan sukses di masa depan.
Selain kompetisi, acara final juga semakin meriah dengan berbagai penampilan spesial para siswa dan guru dari berbagai sekolah. Penampilan yang disuguhkan mulai dari pembacaan ayat suci Al-Qur’an, tari tradisional, seni bela diri, gerakan pramuka, penampilan vokal, hingga pembacaan puisi. Ragam penampilan tersebut memberikan nuansa hiburan sekaligus memperlihatkan keberagaman bakat dan budaya dari berbagai daerah di Indonesia.
Babak Final KMNR-21 dan OGM-11 tidak hanya menjadi ajang lahirnya para juara, tetapi juga menghadirkan banyak kisah inspiratif dari peserta, orang tua, hingga tokoh pendidikan dari berbagai daerah.
Salah satu kisah membanggakan datang dari Dwiki Ahmad Amiruddin Khafiyyah, peserta OGM-11 Level SMA dari SMA Fatih Bilingual School, Kota Banda Aceh, Aceh, yang berhasil meraih Medali Emas sekaligus Peserta Terbaik.
Dwiki mengungkapkan rasa syukurnya karena berhasil meningkatkan prestasinya dari tahun-tahun sebelumnya. Ia mengaku pernah mengikuti OGM level SMP dan meraih medali perunggu. Tahun ini, ia kembali mengikuti OGM level SMA dan berhasil meraih medali emas sekaligus menjadi peserta terbaik. Menurutnya, kunci keberhasilan adalah konsisten berlatih dan terus mengasah kemampuan.
Ia juga menceritakan perjuangannya datang dari Banda Aceh menuju Tangerang Selatan yang membutuhkan perjalanan panjang. Namun, jarak tidak mengurangi semangatnya untuk hadir.
“Tahun ini kebetulan lokasi saya sangat jauh dari Banda Aceh dan membawa 1 finalis KMNR. Bagi siswa di daerah saya, ini lomba yang masih baru karena informasi tentang KMNR belum banyak sampai ke Aceh. Saya juga senang karena di sini bisa bertemu lagi dengan rekan-rekan seperjuangan di bidang olimpiade.”
Menariknya, Dwiki juga mengungkapkan bahwa dirinya adalah alumni Kompetisi Matematika Nalaria Realistik, sehingga ajang ini memiliki makna emosional tersendiri baginya.
Kisah inspiratif lainnya datang dari Faiq Nururrahman Hutrindo, peserta KMNR kelas 8 dari SMP Cahaya Rancamaya, Bogor, Jawa Barat, yang berhasil meraih Medali Emas sekaligus Peserta Terbaik.
Faiq mengungkapkan bahwa dirinya telah mengikuti KMNR sejak tahun 2019. Tahun ini menjadi tahun ketujuhnya mengikuti ajang tersebut, dan luar biasanya, ia berhasil meraih medali emas selama tujuh tahun berturut-turut.
Ia juga mengaku sangat menikmati tantangan soal-soal pada babak final.
“Soal tahun ini tentunya lebih sulit daripada tahun lalu, tetapi saya tetap menikmati tantangannya. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada guru-guru KPM dan juga orang tua di rumah.”
Sementara itu, Kaizer Yutaka Arsanta Azhary, siswa kelas 4 dari SD Islam Tugasku, Jakarta Timur, DKI Jakarta, juga sukses mencuri perhatian dengan prestasinya sebagai Peraih Medali Emas sekaligus Peserta Terbaik.
Dengan penuh semangat, Kaizer menceritakan perjalanannya mengikuti KMNR sejak kecil.
“Senang banget karena aku bisa dapat top skor atau jadi peserta terbaik. Aku ikut KMNR sejak tahun 2023 secara berturut-turut. Waktu kelas 1, saat pertama kali ikut KMNR, aku langsung dapat medali emas pertama di hidupku.”
Ia juga menyampaikan bahwa medali emas tahun ini menjadi medali emas ketiganya. Meski pernah meraih medali perak di KMNR, hal itu tidak membuatnya menyerah. Justru, pengalaman tersebut menjadi motivasi untuk terus berusaha lebih baik dengan target mendapatkan medali emas di Olimpiade Sains Nasional.
Dengan polos namun menyentuh, Kaizer menutup testimoninya dengan ucapan sederhana yang menginspirasi.
“Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada diriku sendiri karena aku sudah belajar sebisanya.”
Dukungan dari orang tua juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan peserta. Hal ini diungkapkan oleh Nina, orang tua dari Muhammad Ahsan Rasyidi, siswa kelas 2 dari SD Islam Riyadhus Shalihin, Bekasi, Jawa Barat, yang berhasil meraih Medali Emas sekaligus Peserta Terbaik.
Ia mengungkapkan rasa haru, syukur, dan bangga melihat hasil dari perjuangan anaknya.
“MasyaAllah, bersyukur dan bangga atas kerja kerasnya dalam konsisten belajar sehingga membuahkan hasil. Ini pertama kalinya ikut KMNR.”
Menurutnya, keberhasilan anak tidak datang secara instan, tetapi melalui proses panjang berupa bimbingan, pembinaan, latihan, dan pendampingan.
“Kuncinya dibimbing, dibina, dan dilatih. Untuk KMNR ini banyak sekali manfaatnya, anak jadi termotivasi untuk berkompetisi dan terus meningkatkan diri menjadi lebih baik.”
Selain peserta dan orang tua, antusiasme terhadap KMNR juga datang dari pemerintah daerah. Salah satunya disampaikan oleh Muhammad Refli MS, S.Sos., M.Si., selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, saat diwawancarai di sela-sela kegiatan.
Beliau menyampaikan bahwa Kabupaten Ogan Komering Ilir telah beberapa tahun rutin mengikuti KMNR sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Ia juga menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pembentukan karakter.
Sebagai bentuk dukungan nyata, pemerintah daerah mereka rutin mengadakan acara pelepasan untuk para peserta sebelum berangkat ke final KMNR.
Beliau juga menjelaskan bahwa selain mengikuti kompetisi, rombongan dari Ogan Komering Ilir memanfaatkan perjalanan ini untuk kegiatan edukatif lainnya.
“Setelah selesai KMNR ini, kami akan lanjut studi banding di beberapa tempat di Tangerang terkait pengelolaan sampah dan bank sampah, sehingga anak-anak dari Ogan Komering Ilir tidak hanya mendapat edukasi matematika, tetapi juga tentang lingkungan. Ilmu itu akan kami bawa dan transfer ke daerah kami.”
Testimoni-testimoni tersebut semakin menegaskan bahwa KMNR dan OGM bukan sekadar kompetisi, melainkan ruang perjuangan, pembelajaran, silaturahmi, dan inspirasi bagi semua pihak.
Demikian rangkaian Babak Final KMNR-21 dan OGM-11 yang berlangsung meriah, penuh perjuangan, dan inspirasi. Semoga ajang ini terus menjadi wadah lahirnya generasi-generasi hebat Indonesia yang cerdas, tangguh, dan berprestasi.
Klinik Pendidikan MIPA mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh peserta, orang tua, guru pembimbing, penanggung jawab lomba, panitia, serta semua pihak yang telah memberikan dukungan dan berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan ini.
Sampai bertemu kembali di ajang-ajang berikutnya bersama Klinik Pendidikan MIPA. Terus belajar, terus berjuang, dan terus menginspirasi!