Klinik Pendidikan MIPA kembali menyelenggarakan Seleksi Siswa Kelas Khusus (SKK) Tahun Ajaran 2026–2027 pada Minggu, 17 Mei 2026. Kegiatan ini berlangsung serentak di berbagai wilayah Jabodetabek dan mendapat antusiasme tinggi dari para peserta.

Tercatat sebanyak 946 siswa dari jenjang SD hingga SMP mengikuti seleksi yang tersebar di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Adapun rincian peserta per wilayah yaitu Jakarta sebanyak 386 siswa, Bogor 173 siswa, Depok 160 siswa, Bekasi 106 siswa, dan Tangerang 116 siswa.

Pelaksanaan SKK semester ini sengaja diselenggarakan secara terdesentralisasi di beberapa wilayah Jabodetabek. Langkah tersebut diambil untuk memberikan kemudahan akses bagi peserta dari berbagai daerah agar tetap dapat mengikuti seleksi tanpa terkendala jarak, waktu, maupun biaya transportasi.

Selain itu, sistem pelaksanaan di banyak titik dinilai lebih efektif dalam menjangkau siswa-siswa potensial di berbagai wilayah. Dengan lokasi ujian yang lebih dekat dari domisili peserta, minat dan partisipasi siswa pun meningkat secara signifikan. Strategi ini juga menjadi bagian dari upaya pemerataan akses pendidikan berkualitas dan pembinaan olimpiade agar tidak hanya terpusat di satu wilayah tertentu.

Seleksi Kelas Khusus KPM sendiri merupakan salah satu program unggulan yang bertujuan menjaring siswa-siswa berbakat di bidang matematika dan IPA untuk mendapatkan pembinaan intensif menuju kompetisi tingkat nasional maupun internasional.

Pasca-seleksi, siswa akan dibagi berdasarkan hasil tahapan seleksi yang telah ditempuh. Siswa yang belum lolos ke tahap berikutnya akan diarahkan mengikuti Kelas Reguler yang dilaksanakan di cabang KPM atau Sekolah Center (SC) terdekat.

Sementara itu, siswa yang lolos Tahap 2 akan mengikuti seleksi lanjutan pada Minggu, 7 Juni 2026 di SD-SMP Al-Azhar Syifa Budi Cibinong. Tahapan tersebut meliputi Tes Akademik, Tes Olahraga, dan Wawancara untuk menentukan kategori Kelas Berbakat A, B, atau C.

Siswa Kelas Berbakat A dan B akan mendapatkan pembinaan terpusat di KPM Pusat maupun Sekolah Center (SC) Utama yang berlokasi di YAPI Al Azhar Rawamangun, Jakarta Timur. Sementara itu, siswa Kelas Berbakat C akan menjalani pembelajaran di cabang KPM masing-masing wilayah.

Tidak hanya menyelenggarakan seleksi siswa, pada waktu yang sama KPM juga mengadakan Seleksi Guru Olimpiade (SGO) yang diikuti oleh 15 guru dari wilayah Jabodetabek. Adapun rinciannya yaitu Jakarta sebanyak 3 guru, Bogor 7 guru, dan Bekasi 5 guru.

General Manager Pendidikan KPM, Irvan Sanjaya menjelaskan bahwa program Seleksi Guru Olimpiade hadir sebagai wadah bagi para pendidik untuk mengembangkan kompetensi akademik sekaligus memperluas kontribusi mereka dalam dunia pendidikan.

“Tujuannya adalah memfasilitasi para pendidik untuk mengamalkan kompetensi akademiknya secara lebih luas demi mencerdaskan anak bangsa. KPM meyakini bahwa keberkahan seorang guru lahir dari ilmu yang terus dimanfaatkan dan mengalir,” ujarnya.

Melalui program ini, para guru juga diharapkan mampu menyebarluaskan metode pembelajaran Matematika Nalaria Realistik (MNR) dan Sains Nalaria Realistik (SNR) yang selama ini menjadi ciri khas pembinaan di KPM. Metode tersebut menitikberatkan pada penguatan logika, penalaran, serta kemampuan berpikir kritis siswa.

Guru yang lolos seleksi nantinya akan bergabung dalam sistem kemitraan lepas (freelance) dengan jadwal mengajar fleksibel yang dirancang agar tidak mengganggu tugas utama mereka di sekolah formal. Aktivitas mengajar umumnya dilaksanakan di luar jam sekolah, seperti sore hari atau akhir pekan.

Selain memperoleh peluang tambahan penghasilan, para guru juga akan mendapatkan berbagai pembinaan dan pengembangan kapasitas. Mulai dari peningkatan kemampuan akademik, akses pembahasan soal olimpiade nasional dan internasional, hingga kesempatan bergabung dalam komunitas eksklusif pendidik olimpiade KPM.

KPM juga memberikan pembinaan rutin setiap bulan yang tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pembinaan ruhani dan spiritual untuk menjaga integritas serta keikhlasan dalam mengajar.

Raisha Siti Ameera, siswa kelas 6 peserta Seleksi Kelas Khusus (SKK) offline, mengaku termotivasi mengikuti seleksi karena ingin meningkatkan kemampuan akademiknya. Ia menuturkan bahwa dirinya telah mempersiapkan diri dengan belajar mandiri di rumah sebelum mengikuti tes. Menurutnya, sang ibu menyampaikan bahwa mengikuti SKK dapat membantu meningkatkan nilai. Ia juga merasa soal yang diujikan cukup sulit sehingga membuatnya ingin belajar lebih giat lagi dan berharap dapat mengikuti olimpiade. 

Sementara itu, Mediawati, seorang guru privat yang mengikuti Seleksi Guru Olimpiade (SGO), mengungkapkan keinginannya untuk menjadi pengajar di KPM sekaligus mendalami dunia pembinaan olimpiade.

“Saya ingin menjadi pengajar di KPM dan mengajar olimpiade. Selain untuk mengembangkan diri, saya juga ingin anak saya nantinya bisa mengikuti olimpiade. Sejak lama saya memang ingin bergabung mengajar di sini. Kebetulan saya mendapat informasi dari teman bahwa KPM membuka seleksi guru olimpiade,” tuturnya.

Antusiasme juga datang dari Dita Riana Hapsari, orang tua dari Daifa Qurrota Askadina, peserta SKK kelas 2 SD, serta Yuki Shaqila Febriani, kelas 4 Siswa Kelas Khusus KPM Berbakat C offline. Ia mengaku merasakan perkembangan akademik yang signifikan setelah anaknya mengikuti pembinaan di KPM.

“Anak saya yang pertama sudah masuk kelas berbakat KPM. Saya merasa bangga karena nilai hariannya, ulangan, hingga rapor rata-rata di atas 92. Setelah bergabung di KPM, hasil ujiannya juga belum pernah di bawah 95,” katanya.

Ia menambahkan bahwa perkembangan sang kakak membuat adiknya tertarik untuk ikut belajar di KPM hingga akhirnya bergabung di kelas reguler dan mengikuti Seleksi Kelas Khusus semester ini.

“Harapan saya semoga KPM terus mendukung anak-anak hebat Indonesia, memberikan fasilitas, dan membuka kesempatan bagi anak-anak yang ingin berkembang. Menurut saya, KPM juga sangat membantu karena tidak hanya terbuka untuk kalangan menengah ke atas, tetapi juga merangkul semua kalangan,” tambahnya.

Melalui program Kelas Khusus dan Pembinaan Olimpiade ini, KPM berharap dapat melahirkan generasi muda Indonesia yang unggul dalam prestasi, bernalar tinggi, berkarakter, serta siap berkontribusi nyata bagi kemajuan bangsa melalui bidang sains dan matematika.

Bagi siswa yang belum mengikuti Seleksi Kelas Khusus (SKK) offline, Klinik Pendidikan MIPA kembali membuka SKK Online Tahun Ajaran 2026–2027 untuk jenjang SD dan SMP.

Pelaksanaan: Minggu, 21 Juni 2026
Pendaftaran terakhir: Jumat, 19 Juni 2026

Pendaftaran melalui  https://kpm.read1institute.org (Menu Pendidikan Online)
Narahubung: +62 851-5995-1604

Melalui program Kelas khusus online ini, KPM berharap semakin banyak siswa berbakat dari berbagai daerah dapat memperoleh kesempatan mengikuti pembinaan matematika dan IPA secara lebih luas, fleksibel, dan terjangkau.