Oleh: Raden Ridwan Hasan Saputra
Tulisan
ini berani saya tulis setelah saya menyelesaikan tulisan yang berjudul
“Matematika Pada Surat Al-‘Ashr”. Oleh karena itu sebelum membaca tulisan ini
sampai tuntas sebaiknya membaca terlebih dahulu tulisan saya tentang
matematika pada surat Al-‘Ashr di https://read1bogorplus.com/blog/read/matematika-pada-surat-al-ashr supaya tidak salah paham dengan apa yang akan saya jelaskan.
Setelah membaca tulisan di link tersebut, mari kita fokus membahas judul
di atas.
Kita
sudah sering mendengar hadist Nabi Muhammad SAW tentang keutamaan salat
berjamaah, yaitu:
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar RA, bahwa Rasulullah SAW
bersabda, "Salat berjamaah itu lebih utama daripada salat sendiri sebanyak
27 derajat." (HR. Bukhari)
Ada
hadist lain dalam salat berjamaah, walaupun kita agak jarang mendengar hadist
yang kedua ini, diriwayatkan pula dari Abu Said bin Al Khudri RA, dengan matan
yang agak sedikit berbeda, yakni Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Salat berjamaah itu lebih utama dibandingkan salat
sendiri (dengan perbandingan) sebanyak 25 derajat." (HR. Bukhari)
Saya
ingin menyoroti tentang keutamaan salat berjamaah yang lebih utama 27 derajat
dan 25 derajat dibanding dengan salat sendiri. Kenapa bilangan yang digunakan 27 dan 25?, terus kata yang digunakan derajat bukan kali? Mungkin banyak orang
akan berkomentar untuk apa memikirkan dua hal itu, kan itu semua sudah
ketentuan Allah. Saya hanya berpikir jika kita bisa melakukan kajian dan bisa
menemukan kenapa muncul bilangan 27 dan 25 serta kata derajat yang digunakan,
Insya Alloh kita bisa memaksimalkan manfaat dari salat berjamaah.
Mari kita kembali ke masalah keutamaan salat
berjamaah, karena adanya hadist tentang salat berjamaah menyebabkan umat islam
membangun masjid. Jika kita telusuri sejarah, ternyata masjid di zaman
Rasulullah, tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah saja, tetapi juga berfungsi sebagai tempat melaksanakan aktivitas sosial seperti mengumpulkan zakat, infak dan sedekah serta
menyalurkannya, tempat pelayanan kesehatan, tempat bernaung fakir miskin.
Masjid juga berfungsi sebagai tempat pendidikan dimana nabi
mengajarkan para sahabat ilmu agama dan ilmu kehidupan. Bahkan waktu zaman Nabi
Muhammad SAW aktivitas kenegaraan pun dilaksanakan di masjid.
Setelah kita memahami lebih mendalam fungsi masjid,
mari kita pahami tentang salat. Di surat Al Mu’minun ayat 1- 2 yang
terjemahannya sebagai berikut: “Sungguh, beruntunglah orang-orang mukmin.
(yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya”. Kata beruntung ini
mengingatkan saya tentang surat Al-‘Ashr yang artinya: Demi masa.
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang
beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati
kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
Saya mencoba menghubungkan fungsi masjid di zaman
rasulullah dengan surat Al-‘Ashr (sekali lagi saya ingatkan untuk membaca link
pada paragraf pertama). Jika kita renungkan aktivitas masjid di zaman
Rasulullah sepertinya adalah bentuk praktik dari surat Al-‘Ashr, karena di
masjid ada aktivitas yang membuat orang-orang meningkat keimanannya (berfungsi
sebagai tempat aktivitas ibadah), mengerjakan amal saleh (berfungsi
sebagai tempat aktivitas sosial) dan nasehat menasehati dalam kebenaran
dan kesabaran (berfungsi sebagai tempat aktivitas pendidikan). Kata
“orang-orang” di surat Al-‘Ashr, menunjukkan tiga aktivitas tadi seharusnya
dilakukan secara berjamaah. Maknanya surat Al-‘Ashr sangat erat hubungannya
dengan jamaah dan jika tiga aktivitas itu dilaksanakan secara berjamaah maka
pasti akan mendatangkan keberuntungan.
Jika dihubungkan antara salat khusyuk dengan surat
Al-‘Ashr, saya melihat khusyuk itu tidak cukup hanya menghadirkan hatinya,
pikirannya, dan seluruh jiwanya untuk Allah, tanpa ada gangguan dari dunia luar
saat salat, tetapi orang yang salatnya khusyuk harus tercermin dari
aktivitasnya sehari-hari. Orang yang salatnya khusyuk, harus banyak melakukan
amal saleh (sehingga salat bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar),
orang yang salatnya khusyuk juga harus melakukan aktivitas saling menasehati
dalam kebenaran dan kesabaran.
Mari kita lanjutkan kembali, pembahasannya fokus pada
surat Al-‘Ashr, karena fungsi masjid zaman Rasulullah terhubung dengan surat
Al-‘Ashr maka fungsi masjid ini bisa dibuat dalam diagram kartesius 3 dimensi
seperti pada surat Al-‘Ashr, yang gambarnya sebagai berikut.
Karena sekarang sudah mulai pembahasannya tentang
matematika, maka saya akan menceritakan konsep matematika yang berhubungan
dengan derajat. Sependek pengetahuan saya kata derajat di bidang matematika
tidak hanya berhubungan dengan sudut, tetapi ada kata derajat berhubungan juga
dengan pelajaran aljabar, khususnya tentang polynomial. Saya ingin langsung
membahas tentang derajat polynomial.
Definisi
derajat polynomial adalah derajat tertinggi dari suku-sukunya.
Contoh
1: 2x3 – 24x2 + 11x – 10 derajat
tertinggi dari suku-sukunya adalah 3. Jadi, derajat polinomial tersebut
adalah 3. Contoh 2: 2x4y3 + xy2 –
5x5y6 derajat tertinggi dari suku-sukunya adalah
11 (5 + 6 = 11). Jadi, derajat polinomial tersebut adalah 11. Contoh
3: x9y7z8 + x3y2 –
5x3y6 derajat tertinggi dari suku-sukunya adalah
24 (9 + 7 + 8 = 24). Semoga 3 contoh ini bisa dipahami oleh para pembaca.
Sekarang
mari kita kembali ke gambar diagram kartesius 3 dimensi tentang keutamaan
berjamaah. Digambar ini saya berpikir ketika umat islam berjamaah dengan benar,
baik dalam hal aktivitas ibadah sumbu-y, dalam hal aktivitas
sosial sumbu-x dan hal aktivitas pendidikan sumbu-z
maka hasilnya akan sempurna untuk tiap hal atau tiap sumbu. Untuk nilai
sempurna ini, saya berikan angka 9. Kenapa angka 9? karena angka 9 dikenal
sebagai angka tertinggi dari deret bilangan tunggal, atau merupakan simbol
kesempurnaan. Dalam islam angka 9 mempunyai keunikan diantaranya untuk
menunjukkan banyaknya nama Allah yaitu 99.
Saya berpikir yang namanya pahala balasannya berlipat
ganda. Sehingga saya berpikir makna berlipat berarti suatu bilangan pangkat,
sehingga nilai kesempurnaan dalam kasus ini saya anggap jika nilai sumbunya
diberi pangkat 9. Sehingga nilai kesempurnaannya menjadi aktivitas ibadah
= y9, aktivitas sosial = x9,
aktivitas pendidikan = z9. Karena nilai keutamaan adalah
volume kotak, maka volume kotak yang terjadi adalah V(x, y, z) = x9y9z9 .
Berdasarkan definisi polynomial tadi maka jika salat berjamaah yang disertai
aktivitas ibadah yang sempurna, aktivitas sosial yang sempurna dan aktivitas
pendidikan yang sempurna maka akan lebih utama 9 + 9 + 9 = 27 derajat dari pada
salat sendiri. (inilah dugaan saya asal bilangan 27 derajat).
Sekarang bagaimana dengan muncul angka 25 derajat.
Selain angka 9 saya juga akan memperkenalkan keunikan angka 8. Di dalam Al
Quran angka 8 muncul pada surat Al-Haqqah ayat 17, Allah berfirman: "Dan
malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan
malaikat menjunjung ‘Arasy Tuhanmu di atas mereka." Jika kita coba
memahami angka 8 dan dihubungkan dengan jamaah, maka angka 8 melambangkan
tentang kekuatan, keagungan dan stabilitas. Jadi saya akan menggunakan angka 8
bukan hanya dari segi nilai tapi dari sisi filosofis. Artinya jika berjamaah
maka aktivitas sosial dan aktivitas pendidikan akan mempunyai kekuatan,
keagungan dan stabilitas. Sedangkan aktivitas ibadah harus tetap sempurna atau
bernilai 9. Jika dituliskan bentuknya menjadi aktivitas ibadah = y9,
aktivitas sosial = x8 dan aktivitas pendidikan
= z8. Volume kotak yang terjadi adalah V (x, y,
z) = x8y9z8. Berdasarkan
definisi polynomial tadi maka jika salat berjamaah yang disertai ibadah yang
sempurna, aktivitas sosial dan aktivitas pendidikan yang kuat, agung dan
stabil, akan lebih utama 8 + 9 + 8 = 25 derajat (inilah dugaan saya asal
bilangan 25 derajat).
Perlu diketahui saya bukanlah ahli tafsir Al Quran dan
hadist. Saya adalah orang yang suka utak-atik matematika. Perhitungan mendapat
bilangan 25 dan 27 derajat itu baru dugaan saya saja, kalau para pembaca ada
yang tidak setuju, saya sangat senang jika ada yang menunjukkan cara yang lain
untuk mendapatkan bilangan 27 dan 25 derajat.
Jika kita renungkan dalam surat Al-‘Ashr ada kalimat “saling
menasehati dalam kesabaran” dan dalam QS. Az-Zumar ayat 10 yang
artinya “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan
pahala mereka tanpa batas.” Saya jadi berpikir jika kita semua berjamaah
dalam melakukan aktivitas ibadah, aktivitas sosial dan aktivitas pendidikan
dengan penuh kesabaran, maka akan mendapatkan pahala tanpa batas. Makna disini
adalah akan ada manfaat atau hikmah luar biasa yang tidak pernah kita pikirkan
jika kita melaksanakan aktivitas jamaah dengan benar dan sabar.
Hikmah dari salat berjamaah dengan pemahaman sekarang.
Jika
bicara masjid sebagai tempat aktivitas sosial seharusnya pendistribusian zakat,
infak dan sedekah bukan setahun sekali di bulan Ramadan, tetapi bisa dilakukan
tiap hari. Adanya pembagian zakat, infak dan sedekah tiap hari, manfaatnya
masjid bisa menjadi tempat untuk memberi makan orang yang lapar dan membantu
ekonomi umat agar terhindar dari riba. Beberapa masjid di Indonesia sudah
melaksanakan program makan bergizi gratis setiap hari dan ada pula masjid yang
memberikan pinjaman tanpa bunga kepada jamaahnya, kedua kegiatan ini dilakukan
tanpa bantuan pemerintah.
Untuk situasi kekinian di Indonesia, saya berpikir
program pemerintah yang bernama Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa
Merah Putih (KDMP) sebenarnya bisa dikelola oleh masjid. Saran saya, mulailah
melibatkan masjid dalam dua program pemerintah ini. Insya Alloh akan jauh
lebih murah (karena banyak jama’ah yang menyumbang) dan lebih amanah (Insya
Allah banyak pengurus masjid yang anti korupsi) serta berkah (penerima manfaat
akan diajak ibadah).
Jika
bicara masjid sebagai tempat aktivitas pendidikan, seharusnya sejak zaman
dahulu, masjid menjadi tempat cikal bakal berdirinya sekolah-sekolah negeri di
Indonesia. Jika sekolah berdiri di dekat masjid yang berada di pemukiman warga
maka sistem zonasi sangat mudah diwujudkan dan pendidikan berbasis masyarakat
jadi mudah diterapkan. Di era generative AI seperti sekarang ini, sebaiknya
masjid-masjid tidak hanya mengadakan pengajian tetapi juga mendirikan bimbingan
belajar Matematika, IPA, IPS dll dengan biaya seikhlasnya atau bisa juga
gratis, untuk membantu anak dan remaja di sekitarnya untuk belajar pelajaran
sekolah. Di masjid, mereka tidak hanya belajar tetapi mereka diajak untuk
rajin beribadah dan dibentuk karakternya. Bisa jadi bimbingan belajar di
masjid ini suatu saat nanti akan diakui pemerintah, sehingga bimbel ini bisa
mengeluarkan ijazah, dimana lulusan nya bisa masuk perguruan tinggi.
Jika
para pembaca menjadi pemimpin perusahaan atau lembaga dan ingin perusahaannya
atau lembaganya terus beruntung, maka jadikanlah perusahaannya atau lembaganya
seperti masjid. Maknanya di perusahaan atau lembaganya tersebut sebagai tempat
beribadah karyawannya (mengajak karyawan yang muslim salat berjamaah),
mengadakan akivitas sosial (memberi manfaat untuk karyawan dan lingkungan
sekitar) dan mengadakan aktivitas pendidikan (mendidik karyawan dan masyarakat
untuk taat aturan Allah). Lakukan semuanya secara berjamaah, Insya Allah
perusahaan atau lembaganya tersebut akan terus bertumbuh. Hal ini pasti berlaku
untuk lembaga negara yang melaksanakan konsep ini.
Terakhir,
menurut saya ini tidak kalah penting. Salat berjamaah di masjid jika
dilaksanakan dengan baik akan punya dampak positif terhadap kehidupan spritual,
sosial, dan pendidikan masyarakat. Tentunya ini akan berdampak pada kehidupan
ekonomi masyarakat dan kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika Haji dan umroh
yang hukumnya wajib hanya bagi umat islam yang mampu saja pemerintah membuat
kementeriannya, kenapa salat yang hukumnya wajib bagi seluruh umat islam, tidak
dibuat kementeriannya?. Seharusnya pemerintah mendirikan Kementerian Masjid dan
Mushola. Mendirikan Kementerian Masjid dan Mushola ini jauh
lebih mudah karena kantornya sudah ada, yaitu lebih dari 800.000 masjid dan
Mushola yang bisa menjadi kantor kementrian ini, sudah berdiri di seluruh
Indonesia. Para calon pegawainya pun Insya Allah siap digaji tidak tinggi,
karena ketua DKM dan pengurus masjid di Indonesia banyak yang tidak dibayar.
Kementerian ini bertugas dalam meningkatkan aktivitas
ibadah, aktivitas sosial dan aktivitas pendidikan. Kementerian ini jangan
dibawah Kementerian Agama maupun Kementerian sosial dan Kementerian Pendidikan.
Kementerian Masjid dan Mushola ini harus mandiri, saya menyebut Kementerian ini
sebagai Institusi Jiwa Bergizi Nasional. Kita sudah punya Institusi Badan Gizi
Nasional, mengapa kita tidak mempunyai Insitusi Jiwa Gizi Nasional. Kan
Seharusnya Bangun Jiwanya dulu baru Bangunlah Badannya, untuk Membuat Indonesia
Raya.
Semoga
hikmah yang saya tuliskan ini bermanfaat.
Bogor,
28 Maret 2026
Raden
Ridwan Hasan Saputra
Presdir
Klinik Pendidikan MIPA
Motivator
suprarasional
Kaprodi
Pendidikan Matematika FKIP UIKA Bogor
HP:
0812-8034-1100
Email: prmipa@yahoo.com