Menanamkan semangat cinta tanah air dapat dilakukan melalui berbagai cara. Salah satunya melalui pendidikan dan permainan bernilai karakter yang menumbuhkan kesadaran, tanggung jawab, dan kebanggaan sebagai anak bangsa. Semangat inilah yang dihadirkan Klinik Pendidikan MIPA (KPM) ketika kembali diundang oleh Direktorat Sekolah Menengah Pertama, Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Kemendikdasmen) sebagai narasumber utama dalam kegiatan “Penguatan Bela Negara Jenjang SMP Tahun 2025.”
Kegiatan ini bertujuan membentuk sikap, perilaku, dan nilai-nilai dasar bela negara pada peserta didik jenjang SMP agar memiliki kesadaran dan kecintaan yang tinggi terhadap tanah air, serta memperkuat karakter siswa sebagai generasi penerus bangsa. Acara berlangsung di Rindam Iskandar Muda, Leu Ue, Darul Imarah, Kabupaten Aceh Besar, pada 11–14 November 2025, dan diikuti oleh 260 siswa dan 62 guru dari lebih 60 sekolah dan lembaga pendidikan SMP/SMPIT di wilayah Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar.
Dalam kegiatan tersebut, Dr. Raden Ridwan Hasan Saputra, M.Si., Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA, menyampaikan materi berjudul “Strategi Penguatan Bela Negara dengan Pendekatan Suprarasional.” Beliau menekankan bahwa bela negara tidak hanya berkaitan dengan aspek fisik dan kedisiplinan, tetapi juga dengan kesadaran spiritual, keikhlasan, tanggung jawab, dan semangat memberi manfaat bagi sesama.
KPM kembali menghadirkan inovasi khasnya melalui “Permainan Matematika Bela Negara” yang dipandu oleh tim KPM. Dalam kegiatan ini, pembelajaran matematika dikemas menjadi pengalaman kebangsaan yang seru dan bermakna. Para peserta diajak berpikir kritis, bekerja sama, dan menjawab tantangan logika yang dipadukan dengan nilai-nilai kebangsaan seperti Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 1945, dan semangat perjuangan bangsa.
Melalui kerja sama tim dan sikap sportivitas, peserta tidak hanya dilatih logika, tetapi juga ditumbuhkan karakter gotong royong, kejujuran, tanggung jawab, serta cinta tanah air sebagai wujud nyata semangat bela negara dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Muhamad Ihsan, S.M., Manager Pelatihan Umum KPM sekaligus salah satu pemandu permainan, respons peserta sangat positif.
“Secara umum, tidak ada kendala yang berarti. Semua kegiatan berjalan lancar dan tertib. Para peserta, baik siswa maupun guru pendamping, menunjukkan antusiasme dan semangat yang luar biasa sepanjang rangkaian acara. Suasana kegiatan menjadi sangat hidup, interaktif, dan penuh makna,” ungkap Pak Ihsan.
Seorang peserta pengamat sekaligus panitia kegiatan juga memberikan kesan positif terhadap pelaksanaan permainan tersebut.
“Permainan Matematika Bela Negara luar biasa. Anak-anak senang sekali karena ini permainan baru bagi mereka. Melalui permainan ini, anak-anak lebih mudah memahami apa itu bela negara. Matematika yang selama ini dikonotasikan menakutkan justru terasa mengasyikkan dan seru sehingga mereka lebih cepat memahami makna bela negara. Kegiatan seperti ini perlu ditransformasikan di sekolah-sekolah agar masyarakat semakin mudah memahami konsep bela negara,” ujarnya.
Di akhir sesi, Pak Ridwan memberikan pesan yang mendalam kepada seluruh peserta didik.
“Jadikan semangat bela negara bukan sekadar slogan, tetapi cara hidup yang lahir dari kesadaran hati. Cintailah Indonesia dengan cara yang sederhana namun bermakna: belajar sungguh-sungguh, jujur, disiplin, menghormati guru dan orang tua, serta memberi manfaat bagi sesama. Dengan cara berpikir suprarasional, bela negara bukan hanya soal baris-berbaris, tetapi tentang menjaga niat dan perilaku agar selalu membawa kebaikan bagi bangsa,” pesannya.
KPM berharap semangat bela negara dapat tumbuh kuat di hati para peserta didik bukan karena kewajiban, tetapi karena cinta tulus kepada tanah air.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan karakter dan pendekatan suprarasional dapat bersinergi membentuk generasi muda Indonesia yang cerdas, berjiwa tangguh, dan berakhlak mulia.