Klinik Pendidikan MIPA (KPM) terus berinovasi dalam memperkuat jaringan pendidikan berbasis nilai-nilai suprarasional melalui program Sekolah Center (SC) KPM. Sebagai langkah nyata, KPM sukses menyelenggarakan Pelatihan dan Sosialisasi Pembentukan Sekolah Center (SC) yang dilaksanakan di Kantor KPM Pusat – Bogor, pada 31 Oktober – 2 November 2025.
Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan Jaringan KPM terpilih dari berbagai daerah di Indonesia, meliputi Cabang KPM, Klub MIPA Seikhlasnya (KMS), Rumah Pendidikan MIPA (RPM), dan Sekolah Center (SC) yang sudah berjalan maupun yang sedang dirintis. Selama tiga hari, para peserta tidak hanya mendapatkan pembekalan teoritis, tetapi juga pengalaman langsung tentang bagaimana mengelola, menstandarkan, dan mengembangkan Sekolah Center (SC) sesuai arah dan nilai-nilai dasar KPM.
Menurut Irvan Sanjaya, S.E., selaku Kepala Divisi Kaderisasi dan Pengembangan Jaringan KPM, pelatihan ini memiliki tujuan strategis:
“Pelatihan ini bertujuan untuk membentuk agar jaringan eksisting terus berkembang dan meng-upgrade diri menjadi Sekolah Center (SC), sekaligus menstandarisasi pelaksanaan Sekolah Center mulai dari SOP hingga rangkaian kegiatan pembelajaran,” ujar Pak Sanjaya.
Melalui standarisasi ini, KPM berharap setiap Sekolah Center (SC) di Indonesia memiliki karakteristik dan kualitas pelayanan pendidikan yang seragam, namun tetap adaptif terhadap kebutuhan lokal. Dengan demikian, Sekolah Center (SC) dapat berperan sebagai poros penggerak pendidikan MIPA yang unggul, berkarakter, dan berbasis nilai suprarasional. Diharapkan segera terlahir anak-anak berprestasi di bidang Matematika dan IPA di tingkat nasional dan internasional dari Sekolah Center (SC) yang didirikan.
Selama tiga hari kegiatan, para peserta mendapatkan berbagai materi penguatan, mulai dari materi suprarasional, pembahasan SOP program Sekolah Center (SC), hingga tinjauan lapangan ke Sekolah Center (SC) percontohan.
Sesi suprarasional disampaikan langsung oleh Dr. Raden Ridwan Hasan Saputra, M.Si., pendiri Klinik Pendidikan MIPA, yang menekankan pentingnya pengembangan kecerdasan hati, akal, dan pancaindra secara seimbang. Menurut beliau, pendidikan yang hanya berfokus pada kognisi tanpa menumbuhkan keikhlasan dan kesadaran spiritual akan melahirkan generasi pintar tetapi rapuh. Oleh karena itu, konsep suprarasional menjadi fondasi utama dalam setiap program pembinaan KPM, termasuk dalam Sekolah Center (SC).
Selain materi konseptual, peserta juga berkesempatan melakukan tinjauan lapangan (benchmarking) ke Sekolah Center (SC) aktif. Kunjungan ini memberikan wawasan konkret tentang bagaimana sistem Sekolah Center (SC) diterapkan dalam keseharian: mulai dari kegiatan belajar mengajar, pelaksanaan Tes Eliminasi, hingga pertemuan orang tua siswa. Melalui kegiatan ini, para peserta mendapatkan gambaran konkret bagaimana Sekolah Center (SC) menjadi pusat pembinaan siswa yang terarah, terukur, dan bernilai karakter.
Peserta belajar langsung bagaimana Sekolah Center (SC) dikelola secara mandiri namun tetap mengikuti pedoman KPM, termasuk manajemen siswa, penyusunan jadwal, dan evaluasi pembelajaran berbasis karakter. Pendekatan ini menunjukkan bahwa Sekolah Center (SC) bukan sekadar tempat belajar tambahan, melainkan pusat pembinaan karakter, akademik, dan spiritual siswa secara menyeluruh.
“Kami akan terus mengakomodir dan memfasilitasi kegiatan Sekolah Center (SC) sesuai SOP yang berlaku, memastikan siswa-siswi mendapatkan pembelajaran terbaik untuk mempersiapkan diri menghadapi kompetisi tingkat nasional maupun internasional. Harapannya, semakin banyak siswa yang merasakan manfaat besar dari adanya Sekolah Center (SC) ini.” tambah Pak Sanjaya.
Dukungan dan pandangan positif juga datang dari peserta pelatihan. Ria Eka Lestari, S.Si. dari KMS Muhammadiyah Ahmad Dahlan Gresik menilai bahwa program Sekolah Center (SC) KPM merupakan langkah strategis dan visioner dalam pengembangan pendidikan MIPA di Indonesia. “Program Sekolah Center (SC) KPM adalah langkah strategis dan visioner yang sangat perlu didukung. Sekolah Center (SC) KPM dapat menjadi pusat replikasi dan diseminasi metode pembelajaran MIPA KPM sehingga kualitas pendidikan MIPA tidak hanya terkonsentrasi di satu tempat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Bu Ria menekankan bahwa Sekolah Center (SC) KPM berperan penting sebagai wahana pelatihan berkelanjutan bagi guru-guru MIPA di daerah, memastikan adanya kaderisasi dan peningkatan kompetensi yang stabil. “Dengan adanya Sekolah Center (SC), program KPM akan lebih terstruktur dan berkelanjutan di tingkat daerah. Sekolah Center (SC) KPM berpotensi besar menjadi lokomotif perubahan pendidikan MIPA di Indonesia, khususnya di lingkungan KMS Muhammadiyah Ahmad Dahlan Gresik dan sekitarnya,” pungkasnya.
Sementara itu, Ruswanto, S.Pd., M.Pd., Kepala Bidang Pendidikan SMP–SMA YPI Al Fikri Semarang, yang lembaganya telah lebih dulu menjadi Sekolah Center, berencana memperluas kiprahnya dengan mendirikan Rumah Pendidikan MIPA (RPM).
“Untuk Sekolah Center (SC) SD Islam Al Azhar 25 Semarang pernah mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Kini, saya dan tim sedang menyusun strategi agar Sekolah Center (SC) kami bisa berkembang lagi, baik dari sisi jumlah murid, guru, kegiatan, maupun lomba, agar memberikan kemanfaatan lebih luas bagi masyarakat sekitar,” ujarnya.
Melalui program Sekolah Center (SC), KPM berupaya membangun ekosistem pendidikan yang berkelanjutan dan mandiri. Setiap Sekolah Center (SC) diharapkan menjadi simpul gerakan pendidikan berbasis nilai-nilai keikhlasan dan suprarasional serta berkualitas dalam bidang Matematika dan IPA, yang mampu memperluas pengaruh positif KPM hingga ke pelosok negeri
Sekolah Center (SC) bukan hanya tempat belajar, tetapi wadah pembinaan karakter dan wadah tumbuhnya calon pemimpin bangsa. Di sinilah siswa ditempa untuk berpikir kritis, berjiwa sosial, berakhlak mulia, dan berorientasi pada manfaat bagi sesama.
“Kami berharap Sekolah Center (SC) menjadi rumah bagi siswa-siswi Indonesia untuk belajar dengan hati, berpikir dengan akal sehat, dan berjuang dengan semangat keikhlasan. Dari Sekolah Center (SC) inilah lahir generasi baru Indonesia, generasi suprarasional yang mampu mengharumkan bangsa di tingkat nasional maupun internasional,” tutup Pak Sanjaya.