Di tengah upaya menerapkan pembelajaran yang menyenangkan sekaligus bermakna, Klinik Pendidikan MIPA (KPM) kembali menghadirkan inovasi unik di dunia pendidikan. Kali ini, KPM mengembangkan sebuah Permainan Matematika Pramuka, sebuah gagasan yang memadukan pembelajaran logika dan nalar matematika dengan nilai-nilai kepramukaan.
Uji coba perdana permainan ini dilaksanakan pada Kamis, 6 November 2025 di dua sekolah di Bogor, yaitu SDIT Birrul Waalidain & Madrasah Tahfizh An-Nashr Parung. Melalui kegiatan ini, KPM ingin menunjukkan bahwa belajar matematika tidak harus selalu duduk di kelas, dan kegiatan pramuka pun bisa menjadi ajang melatih nalar, kolaborasi, serta kerja sama tim.
Menurut Dr. Raden Ridwan Hasan Saputra, M.Si., selaku Presiden Direktur Klinik Pendidikan MIPA (KPM), inspirasi ini muncul karena melihat fokus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang kini menaruh perhatian besar terhadap penguatan kegiatan pramuka di sekolah-sekolah.
“Kita melihat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah sangat konsen ke pramuka, bahkan mewajibkan kegiatan pramuka ada di sekolah-sekolah. Dari situ kami terinspirasi untuk membuat permainan matematika agar anak-anak, saat latihan pramuka, tidak hanya belajar kedisiplinan dan kerja sama, tetapi juga melatih nalarnya melalui matematika,” jelasnya.
Permainan ini dirancang agar aktivitas pramuka dan matematika dapat berjalan beriringan. Di dalamnya, siswa diajak untuk berpikir kritis, bekerja sama, dan berkolaborasi dalam tim, sebagaimana nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam kegiatan pramuka. Selain soal-soal bernuansa matematis, permainan ini juga memuat materi kepramukaan seperti tali-temali, semaphore, dan pengetahuan umum kepramukaan lainnya, sehingga peserta tidak hanya mengasah logika tetapi juga meningkatkan keterampilan pramuka secara menyenangkan.
“Tujuan utamanya supaya anak-anak pramuka bisa belajar berpikir kritis dan belajar pramuka dengan cara yang menyenangkan. Mereka berlatih kerja sama, komunikasi, dan kolaborasi. Dengan begitu, pramuka dan matematika bisa menjadi hal yang menarik,” lanjut Pak Ridwan
Suasana uji coba di kedua sekolah berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Para siswa tampak bersemangat mengikuti setiap tantangan yang menggabungkan unsur logika, strategi, dan ketangkasan. Para guru dan pembina pramuka juga menyambut positif inisiatif ini karena dapat menjadi alternatif pembelajaran aktif yang tidak hanya membangun karakter, tetapi juga menumbuhkan kemampuan berpikir kritis.
Salah satu tim perancang Permainan Matematika Pramuka, Ferdianto, S.Pd., mengungkapkan bahwa kegiatan ini memberikan banyak masukan berharga untuk penyempurnaan ke depan.
“Dari simulasi kemarin, antusiasme anak-anak sangat beragam. Ada yang masih malu-malu, ada juga yang sangat semangat bahkan sudah membawa buku saku sendiri. Ada momen ketika satu kelompok bingung menjawab, kelompok lain sudah berebut untuk menjawab. Meskipun cuaca sempat mendung, kegiatan tetap berlanjut dengan semangat tinggi. Kami juga mendapat banyak masukan, salah satunya agar permainan ke depan lebih banyak mengangkat aspek praktik, misalnya pada bagian semaphore,” ujarnya.
Kesan positif juga datang dari para peserta dan pendidik.
Aski Nabila, siswi SDIT Birrul Waalidain 1 Bogor, mengaku sangat senang bisa mengikuti kegiatan tersebut.
“Rasanya seru karena bisa melatih kerja sama dengan teman-teman sekelompok. Saat menjawab pertanyaan, ada yang sudah kami tahu jawabannya dan ada juga yang belum, jadi kami harus mengumpulkan kartu-kartu sambil berpikir bersama. Dengan permainan ini, kami bisa belajar sambil bermain. Biasanya kalau belajar matematika kan pakai buku dan berhitung, tapi kali ini jadi lebih aktif dan menyenangkan,” tuturnya dengan antusias.
Sementara itu, Ibu Nisrina Humaira Muafa Fayad, pendidik dari Madrasah Tahfidz An-Nashr Parung, turut memberikan apresiasi terhadap inovasi ini.
“Saya senang dan berterima kasih karena sudah mempercayakan kegiatan ini kepada kami. Anak-anak jadi lebih bisa bereksplorasi. Biasanya pramuka hanya menghafal Dasa Dharma atau semaphore, tapi lewat permainan ini mereka bisa belajar sambil bergerak dan berpikir. Ini cara yang efektif agar anak-anak tidak bosan dan justru menikmati proses belajarnya.” ujarnya.
Ke depan, KPM berencana menyempurnakan permainan ini berdasarkan hasil uji coba sebelum diperkenalkan secara resmi kepada Kemendikdasmen.
“Setelah uji coba di An-Nashr dan Birrul Waalidain, kami akan lakukan perbaikan lagi. Harapannya, setelah melalui proses hak cipta, Kemendikdasmen bisa mengadopsi dan menjadikan permainan ini sebagai program nasional,” tutur Pak Ridwan.
Melalui inovasi ini, KPM terus berkomitmen menghadirkan bentuk baru pembelajaran yang menyatukan logika matematika, semangat pramuka, dan nilai-nilai kolaboratif dalam satu aktivitas yang menyenangkan. Sebuah langkah nyata menuju pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga membentuk karakter, solidaritas, dan semangat kebersamaan di antara peserta didik.