Oleh: Raden Ridwan
Hasan Saputra
Ketika berbicara
besarnya pahala infak di jalan Allah, kita sering mendengar beberapa penceramah
mengatakan pahala infak itu akan dibalas 700 kali. Jadi jika kita infak
Rp10.000 maka balasannya nanti sebesar Rp7.000.000. Perkataan beberapa penceramah
ini berdasarkan surat Al-Baqarah ayat 261 yang artinya:
Perumpamaan
orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti
(orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai,
pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa
yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.
Surat Al-Baqarah ayat 261 ini pasti benar, tetapi yang saya bingung kenapa ketika saya infak uang, kok tidak pernah mendapat balasan uang sampai 700 kali dari besar uang yang saya infakkan. Bahkan ada orang yang saya kenal infaknya sekitar Rp 1 miliar , tapi beliau tidak pernah merasakan balasan sampai mendapat Rp 700 miliar atau beliau merasa tidak jadi miliarder sampai sekarang walaupun sering infak. Saya berpikir, tentang pernyataan beberapa penceramah yang menyimpulkan kalimat “(orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji” adalah sebagai balasan pahala infak, yang besarnya 7 x 100 = 700 kali. Saya tidak mengatakan kesimpulan ini salah, tapi bisa jadi perkalian 7 x 100 bersifat maknawi. Jika kita berhasil menemukan makna dari perkalian tersebut, bisa jadi akan membuat orang-orang yang selama ini sudah berinfak tidak mempertanyakan lagi kenapa tidak mendapat balasan 700 kali lipat, bahkan mungkin akan semakin bersemangat berinfak walaupun tidak mendapat balasan 700 kali.
Seperti biasa saya mengatakan bahwa saya bukan seorang ahli tafsir Al-Quran, tetapi saya adalah orang yang suka utak-atik angka. Bisa jadi analisa saya kurang tepat, tetapi Insya Allah akan ada manfaatnya. Untuk lebih kenal saya, silahkan membaca tulisan saya sebelumnya di link ini https://read1bogorplus.com/blog/read/menduga-perhitungan-yang-menghasikan-bilangan-25-dan-27-derajat-sebagai-keutamaan-salat-berjamaah. Mari kita kembali ke surat Al-Baqarah ayat 261. Di ayat ini tidak dikatakan langsung nilainya 700 kali, tetapi dibuat perumpamaan “(orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji” atau bisa ditulis "7 x 100".
Saya ingin mendalami
kenapa digunakan 7 dan 100. Seperti kita ketahui bahwa angka 7 merupakan angka
yang istimewa dalam islam, seperti Allah menciptakan 7 lapis langit, Allah
menghiasi bumi dengan 7 daratan dan lautan, Allah menghiasi manusia dengan 7
anggota tubuh, Allah menjadikan umur manusia menjadi 7 masa, dan Allah
menciptakan 7 lapis neraka. Angka 7 juga digunakan untuk menunjukkan
jumlah tawaf mengelilingi ka’bah dan surat Al-Fatihah memiliki 7 ayat. Banyak
hal lagi yang berhubungan dengan angka 7 yang tidak bisa saya tuliskan di sini.
Pertanyaannya kenapa
Allah sering pakai angka 7? Sebelum saya menjawab ini, saya mencoba mengajak
pembaca untuk menyimak surat Al-Kahfi ayat 25 yang artinya: Dan mereka
tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun
(lagi). Jika dibaca 300 tahun dan 309 tahun bilangannya berbeda
tetapi sebenarnya waktu yang dijalani sama. Hal ini karena bilangan 300 tahun
untuk menunjukkan penggunaan penanggalan masehi dan 309 tahun untuk menunjukkan
penggunaan penanggalan hijriah. Artinya di Al-Quran sudah difasilitasi
kepentingan umat manusia yang menggunakan penanggalan masehi dan yang
menggunakan penanggalan hijriah.
Cerita di surat
Al-Kahfi ini membuat saya terinspirasi dalam hal bilangan, bisa jadi Al Quran
menggunakan dua jenis bilangan basis ketika menuliskan angka. Dugaan saya
bilangan basis yang digunakan adalah bilangan basis 10 dan bilangan basis 8.
Kenapa bilangan basis 8? Hal ini karena Allah sering menggunakan angka 7 dan
angka 7 merupakan angka tertinggi atau angka sempurna di basis 8. Jadi saya
berpikir, jika Allah menggunakan angka 7, maka konteks masalahnya untuk
digunakan pada bilangan basis 8 (ini dugaan saya, mohon maaf jika salah).
Sebelum saya
melanjutkan tulisan ini saya ingin menjelaskan tentang bilangan basis. Dalam
matematika, basis adalah angka dasar yang digunakan dalam sistem bilangan.
Contohnya, sistem bilangan desimal menggunakan basis 10, yang terdiri dari
angka 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9 (ada 10 angka). Bilangan basis 10
adalah bilangan yang biasa kita pakai sehari-hari. Ada juga sistem
bilangan biner (basis 2) yang hanya menggunakan 0 dan 1, sering dipakai di
komputer. Angka terbesar dari suatu bilangan basis nilainya kurang satu dari
nilai bilangan basisnya. Misal bilangan basis 10 angka tertingginya 9, bilangan
basis 9 angka tertingginya 8, bilangan basis 8 angka tertingginya 7 dan
seterusnya sampai bilangan basis 2 angka tertingginya 1.
Mari kita berlatih
sebentar tentang mengubah bilangan basis n ke bilangan basis 10.
112 =
1 × 21 + 1 × 20 = 2 + 1 = 310
315 = 3 × 51 + 1 × 50 = 15 + 1
= 1610
108 = 1 × 81 + 0 × 80 = 8 + 0 =
810
Mungkin para pembaca
ada yang tidak paham, karena bilangan basis ini sudah jarang diajarkan di
pendidikan matematika di Indonesia. Paham atau tidak paham saya harus
melanjutkan tulisan ini.
Mari kita kembali
ke surat Al-Baqarah ayat 261. Sesuai dengan pemikiran saya sebelumnya,
saya berpikir bahwa perkalian pada ayat tersebut berbasis 8 karena menggunakan
angka 7, maka bentuk perkalian dari kalimat “(orang-orang yang menabur)
sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada
seratus biji” akan seperti ini = 78 × (1008)
= 78 ×(108 × 108). Jika diubah
ke basis 10 angka 7 tetaplah menjadi angka 7 atau tetap menunjukkan
kesempurnaan atau nilai terbaik, sedangkan = (1008) = (108 ×
108). Jika dituliskan dalam bentuk basis 10 maka akan menjadi
(810 × 810). Sehingga perkaliannya menjadi 78/10 ×
(810 × 810). Saya melihat bentuk ini tidak untuk
mendapatkan hasil kalinya, tetapi melihat hikmah berdasarkan rangkaian
perkaliannya.
Saya mencoba
menganalisa hikmah untuk 7 sebagai tangkai, dimaknai sebagai balasan yang
terbaik atau balasan yang sempurna untuk orang yang menginfakkan hartanya di
jalan Allah, karena dalam basis 8, angka 7 adalah angka tertinggi
(terbaik/sempurna). Sedangkan bentuk (810 × 810) sebagai
biji, saya menduga dimaknai sebagai kenikmatan yang akan didapatkan, artinya
orang yang berinfak di jalan Allah bisa mendapat 8 kenikmatan di dunia dan 8
kenikmatan di akhirat.
Untuk kenikmatan di
akhirat manusia bisa mendapat kenikmatan surga yang jumlahnya ada 8 yaitu 1)
surga Firdaus, 2) Surga Adn, 3) Surga Na’im, 4) Surga Ma’wa, 5) Surga
Darussalam, 6) Surga Muqamah, 7) Muqamul Amin dan 8) Surga Khuldi. Selanjutnya
adalah 8 kenikmatan dunia. Sebelum saya membahas 8 kenikmatan di dunia, saya
teringat 8 asnaf sebagai penerima zakat (infak wajib) seperti pada surat
At-Taubah ayat 60 yang artinya:
Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin,
para amil zakat, orang-orang yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk
(memerdekakan) para hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang-orang yang
berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang-orang yang sedang dalam perjalanan
(yang memerlukan pertolongan), sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha
Mengetahui lagi Mahabijaksana.
Saya melihat
kenikmatan di dunia secara maknawi terhubung dengan 8 asnaf ini, maksudnya
adalah ketika kita berinfak di jalan Allah ini kita tidak boleh melupakan 8
asnaf ini. Perkara apa bentuk kenikmatan didunia yang akan didapatkan saya
tidak tahu pasti bentuknya. Saya mencoba menuliskan 8 kemungkinan kenikmatan
dunia yang akan mungkin didapat jika manusia rajin berinfak di jalan Allah yang
sebenarnya terhubungan dengan hikmah membantu 8 asnaf. Kemungkinan
kenikmatan di dunia tersebut diantaranya (ini hasil utak-atik pribadi dari
beberapa referensi):
Kenikmatan tersebut
bisa berupa 1) Peningkatan karir di tempat kerja, 2) peningkatan kenyamanan
lingkungan, 3) peningkatan intelektual (tambah pintar), 4)
peningkatan iman, 5) peningkatan status sosial (dihormati), 6) peningkatan
keuangan (tambah kaya), 7) peningkatan kondisi fisik (kesehatan),
atau 8) peningkatan kondisi emosional (hati tenang). Jenis kenikmatan dunia
yang diperoleh menurut saya tergantung apa yang kita tekuni dalam hidup. Jika
seorang guru yang banyak berinfak bisa jadi dampaknya pada peningkatan
intelektual, iman, dan status sosial. Kalau seorang tentara yang rajin infak
bisa jadi dampaknya peningkatan pangkat atau jabatannya, begitu pula untuk
profesi lainnya.
Jika boleh saya
simpulkan secara maknawi perkalian 78 × (1008) atau 78/10 ×
(810 × 810) dari surat Al-Baqarah ayat 261
adalah: jika orang infak di jalan Allah maka akan mendapat balasan yang
sempurna atau terbaik di dunia dan akhirat. Kita jangan melupakan 8 asnaf dalam
berinfak. Insya Allah balasan di dunia tidak harus berupa uang tetapi Allah
akan berikan sesuai kebutuhan/profesi kita dan balasan di akhirat nanti
adalah surga. Berdasarkan kesimpulan ini saran saya, mari kita terus
bersemangat untuk berinfak di jalan Allah tanpa berharap balasan yang
terukur (uang), sebab Allah tahu balasan yang terbaik untuk dunia dan di
akhirat kita.
Mohon maaf jika makna
yang saya buat ini tidak tepat, kebenaran hanyalah milik Allah dan saya hanya
berusaha mencari kebenaran itu.
Bogor, 1 April 2026
Raden Ridwan Hasan Saputra
Presdir Klinik Pendidikan MIPA
Motivator suprarasional
Kaprodi Pendidikan Matematika FKIP UIKA Bogor
HP: 0812-8034-1100
Email: prmipa@yahoo.com